benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus kematian seorang pria di Pasar Gusher, Tarakan, yang dikaitkan dengan riwayat skizofrenia, menunjukkan bagaimana gangguan mental berat dapat berdampak serius terhadap perilaku, persepsi, hingga keselamatan diri penderitanya, sehingga penanganan dan kesadaran sejak dini menjadi hal yang sangat krusial.
Psikolog Klinis, Munazilah, S. Psi., M. Psi, Psikolog, memandang bahwa skizofrenia merupakan gangguan berat yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga lingkungan sekitar, terutama ketika gejala tidak dikenali atau diabaikan sejak awal, bahkan dalam banyak kasus sudah berkaitan dengan penurunan fungsi otak yang memengaruhi cara berpikir dan merespons realitas.
“Skizofrenia ini gangguan mental berat yang juga bisa melibatkan menurunnya fungsi otak,” ungkapnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda awal seperti delusi dan halusinasi sering kali dianggap sepele atau bahkan tidak dikenali sebagai gejala gangguan mental, sehingga banyak kasus baru ditangani ketika kondisinya sudah cukup berat, padahal kedua gejala tersebut merupakan indikator utama yang menunjukkan adanya gangguan serius dalam persepsi dan keyakinan seseorang.
“Dua ciri khasnya adalah delusi dan halusinasi,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran lingkungan dalam kondisi tertentu, terutama ketika penderita mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, termasuk saat tidak mampu menyadari situasi berbahaya yang dialaminya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, intervensi bahkan bisa dilakukan secara paksa demi keselamatan.
“Orang lain bisa membawa paksa jika sudah mengamuk atau menempatkan diri dalam bahaya, seperti berdiri di tengah jalan berjam-jam,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyebab skizofrenia tidak tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai faktor seperti genetik, penyalahgunaan obat terlarang, hingga tekanan psikologis yang menumpuk dalam jangka panjang, yang kemudian muncul sebagai kumpulan gejala berat ketika tidak tertangani sejak awal.
“Bisa karena genetik, obat terlarang, atau masalah psikologis yang menumpuk bertahun-tahun,” ujarnya.
Dari sisi individu, ia menekankan pentingnya kesadaran untuk menjaga kesehatan mental dengan tidak menyepelekan masalah yang dihadapi, karena banyak kondisi berat berawal dari masalah yang diabaikan dan terus menumpuk tanpa penanganan. Seseorang juga perlu memahami kapan dirinya membutuhkan bantuan profesional.
“Jangan menyepelekan masalah dan tidak apa-apa untuk minta bantuan saat dibutuhkan,” katanya.
Ia menambahkan kondisi sudah perlu mendapatkan pertolongan ketika seseorang mulai kesulitan mengelola emosi dan pikirannya secara mandiri, karena hal tersebut menjadi tanda awal gangguan yang lebih serius jika tidak segera ditangani.
“Saat sudah sulit mengelola emosi dan pikiran, itu tanda perlu bantuan,” ujarnya.
Dari sisi layanan kesehatan, ia menyebut bahwa penanganan kini semakin mudah diakses karena fasilitas seperti RSUD sudah mampu memberikan layanan awal sebelum dirujuk ke rumah sakit jiwa jika diperlukan, serta didukung oleh pembiayaan melalui BPJS sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk mencari bantuan.
“RSUD terdekat sudah bisa menangani dan bisa menggunakan BPJS jika ke psikiater,” terangnya.
Munazilah juga melihat adanya perkembangan positif dalam cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental, di mana stigma negatif perlahan mulai berkurang seiring meningkatnya edukasi, sehingga diharapkan semakin banyak orang berani mencari bantuan tanpa rasa takut atau malu.
“Stigma semakin memudar dan edukasi mental health makin baik,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal skizofrenia serta aktif melakukan upaya pencegahan dengan menjaga kesehatan mental, meningkatkan pemahaman, dan saling mendukung satu sama lain agar tidak ada lagi kasus yang terlambat ditangani.
“Awasi gejala seperti delusi dan halusinasi, tangani segera, serta edukasi diri dan orang lain untuk mengurangi stigma negatif,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







