Psikolog Sebut Tekanan Mental Remaja dan Dewasa Berbeda, Gangguan Mental Bukan Sekadar Soal Iman

benuanta.co.id, TARAKAN – Tekanan mental yang dialami remaja dan orang dewasa memiliki perbedaan signifikan, terutama dari sisi perkembangan otak dan tanggung jawab sosial.

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), Sulistyowati menjelaskan pada remaja, bagian otak pengatur emosi atau amigdala berkembang lebih cepat dibandingkan bagian otak pengatur logika dan kontrol diri yakni prefrontal korteks.

Akibatnya, remaja cenderung merasakan emosi lebih intens, lebih reaktif dan rentan mengalami krisis identitas, masalah penerimaan sosial hingga kecemasan tentang masa depan.

“Sedangkan pada orang dewasa, prefrontal korteks umumnya sudah matang sehingga lebih mampu berpikir logis. Tekanan mereka lebih banyak terkait beban finansial, karier, konflik rumah tangga dan tanggung jawab keluarga,” jelasnya.

Baca Juga :  Nilai Pemkot Lalai Jalankan MoU, Pengusaha Sapi Tarakan Soroti Dugaan Monopoli Pemasok

Sulistyowati juga menanggapi anggapan yang mengaitkan tekanan mental dengan hubungan seseorang terhadap Tuhan.

Menurutnya, spiritualitas memang dapat menjadi coping mechanism atau mekanisme koping yang membantu seseorang memperoleh harapan dan makna hidup.

Namun, ia mengingatkan agar gangguan mental tidak disederhanakan hanya karena dianggap kurang iman.

“Mengaitkan gangguan mental hanya sebagai kurang iman adalah pandangan yang keliru dan berbahaya. Orang religius pun bisa mengalami depresi klinis akibat trauma atau gangguan fungsi otak,” tegasnya.

Dukungan dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah tekanan mental pada remaja berkembang menjadi tindakan berbahaya.

Baca Juga :  Fenomena Konten Pornografi dan Judi Online Anak Ramai di Medsos, DKISP Tarakan Soroti Pentingnya PP Tunas

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), Sulistyowati mengatakan lingkungan yang aman secara emosional dapat menjadi support system atau sistem pendukung yang kuat bagi remaja.

“Lingkungan yang aman secara emosional bisa menjadi buffer atau penahan krisis. Remaja membutuhkan ruang untuk menyalurkan emosinya tanpa takut dihakimi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan tekanan mental tidak hanya berasal dari faktor psikologis, tetapi juga dipengaruhi faktor biologis, sosial hingga perkembangan teknologi.

Dari sisi biologis dan genetik, tekanan mental dapat dipicu ketidakseimbangan zat kimia di otak atau neurotransmiter, termasuk adanya riwayat gangguan mental dalam keluarga.

Baca Juga :  146 Personel Polres Tarakan Amankan Salat Iduladha di 48 Titik, Tempat Pemotongan Hewan Kurban Ikut Diawasi

Sementara faktor sosial seperti cyberbullying, verbal bullying, penolakan teman sebaya dan isolasi sosial juga berpotensi memperburuk kondisi mental seseorang.

“Faktor akademik dan ekonomi juga sering menjadi tekanan, misalnya tuntutan nilai tinggi dari sekolah atau orang tua, serta kesulitan finansial keluarga,” tuturnya.

Perkembangan teknologi dan media sosial juga memicu tekanan psikologis melalui fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal, yang membuat remaja terus membandingkan diri dengan standar hidup tidak realistis di media sosial. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *