Skizofrenia dan Penurunan Fungsi Otak, Ancaman Serius yang Kerap Tak Disadari

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus penemuan jasad seorang pemuda (18) di Pasar Gusher, Tarakan, pada Senin (13/4/2026) lalu, mengungkap tabir dugaan bahwa korban meninggal akibat gangguan kejiwaan. Polisi menyebut korban memiliki riwayat skizofrenia, sehingga kasus ini turut menjadi perhatian dari sisi psikologis karena berkaitan dengan gangguan mental berat yang memengaruhi perilaku dan cara seseorang memandang realitas.

Psikolog Klinis, Munazilah, S. Psi., M. Psi, Psikolog, mengungkapkan skizofrenia merupakan gangguan kompleks yang melibatkan penurunan fungsi psikologis sekaligus fungsi otak, sehingga penderitanya mengalami perubahan signifikan dalam persepsi terhadap realitas. Ia menilai kondisi ini tidak bisa disamakan dengan gangguan mental ringan karena dampaknya jauh lebih luas dan dalam.

“Skizofrenia ini adalah gangguan mental berat yang tidak hanya melibatkan fungsi psikologis namun juga bisa jadi melibatkan menurunnya fungsi otak,” ungkapnya, Kamis (16/4/2026).

Lebih lanjut, ia menerangkan gejala utama skizofrenia sangat berkaitan dengan distorsi realitas, terutama melalui munculnya delusi dan halusinasi yang sering kali tidak disadari oleh penderita maupun orang di sekitarnya. Kedua gejala ini menjadi penanda kuat adanya gangguan serius dalam cara otak memproses informasi dan pengalaman.

“Gejala khasnya adalah delusi dan halusinasi,” terangnya.

Delusi atau waham dijelaskan sebagai keyakinan yang sangat kuat namun tidak sesuai dengan kenyataan objektif, yang tetap diyakini meskipun telah dibantah dengan fakta. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada proses berpikir rasional seseorang sehingga realitas dan keyakinan menjadi tidak selaras.

“Delusi itu keyakinan yang sangat kuat namun tidak sesuai kenyataan, misalnya mengaku sebagai kerabat nabi padahal bukan,” jelasnya.

Sementara itu, halusinasi berkaitan dengan pengalaman sensorik palsu di mana seseorang merasa melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu tanpa adanya stimulus nyata. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada sistem persepsi yang membuat otak menciptakan pengalaman seolah-olah nyata.

“Halusinasi itu pengalaman persepsi seolah panca indra menangkap sesuatu, padahal tidak ada pemicunya, misalnya mengaku melihat hantu,” bebernya.

Selain gangguan persepsi dan keyakinan, penderita skizofrenia juga mengalami penurunan kemampuan dalam merawat diri, yang mencerminkan terganggunya fungsi kognitif dan kesadaran terhadap kondisi diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terlihat dari perilaku sederhana yang tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

“Contohnya merasa sudah pakai baju padahal belum,” ujarnya.

Munazilah menekankan kondisi ini membutuhkan penanganan yang komprehensif dan tidak bisa ditunda, karena semakin lama dibiarkan, gangguan yang terjadi pada otak dan psikologis akan semakin kompleks dan sulit ditangani. Ia juga mengingatkan bahwa gejala yang muncul sejak usia anak berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih berat jika tidak segera ditangani.

“Ini makin cepat ditangani maka semakin baik, kalau dibiarkan sejak usia anak bisa lebih parah dan sulit ditangani,” tegasnya.

Dari sisi penyebab, ia membeberkan skizofrenia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor seperti genetik, penyalahgunaan zat, serta tekanan psikologis yang berlangsung lama hingga akhirnya menumpuk dan memicu gangguan berat. Kondisi ini membuat penanganan menjadi lebih kompleks karena melibatkan banyak aspek.

“Penyebabnya bisa genetik, penyalahgunaan obat terlarang, dan masalah psikologis yang menumpuk bertahun-tahun,” bebernya.

Munazilah juga menegaskan skizofrenia tidak dapat disembuhkan sepenuhnya seperti kondisi semula, melainkan lebih berfokus pada pemulihan adaptif agar penderita tetap mampu menjalani kehidupan meski dalam keterbatasan tertentu. Tujuan utama penanganan adalah menjaga fungsi dasar kehidupan tetap berjalan.

“Tujuannya agar klien bisa menjalani hidup pada taraf dasar, bukan kembali seperti orang normal,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *