benuanta.co.id, TARAKAN – Rencana program pengembangan Koperasi Merah Putih senilai Rp3 miliar per kelurahan dinilai belum menyentuh persoalan utama koperasi di Kota Tarakan. Pengurus koperasi menilai kebutuhan mendesak saat ini justru modal usaha dan tempat operasional, bukan pembangunan fisik berskala besar.
Ketua Koperasi Merah Putih Selumit, Saifullah mengatakan, anggaran miliaran rupiah untuk pembangunan koperasi dinilai terlalu besar jika dibanding kondisi koperasi yang sebagian masih kesulitan memulai usaha.
Menurutnya, bantuan dengan nilai lebih kecil namun tepat sasaran akan jauh lebih efektif untuk mempercepat operasional koperasi di seluruh kelurahan.
“Kalau maksimal Rp50 juta dikali 20 kelurahan, itu cuma sekitar Rp1 miliar. Daripada memaksakan program Rp3 miliar per kelurahan yang totalnya bisa sampai Rp60 miliar,” sebutnya.
Dia menjelaskan, dana tersebut cukup digunakan untuk memperbaiki atau memanfaatkan aset milik kelurahan yang tidak terpakai sebagai kantor maupun gerai koperasi.
Saifullah menyebut, persoalan terbesar koperasi saat ini adalah keterbatasan modal kerja. Akibatnya, sebagian besar koperasi yang telah memiliki legalitas belum mampu menjalankan usaha secara maksimal.
“Yang dibutuhkan koperasi hari ini adalah modal kerja supaya usaha bisa langsung jalan,” ungkapnya.
Dari total 20 Koperasi Merah Putih yang telah terbentuk di Tarakan, baru empat koperasi yang aktif beroperasi, yakni di Selumit, Karang Anyar, Mamburungan Timur, dan Juata Permai.
Dia juga mengkritisi skema program 3M yang saat ini dikelola Agrinas. Menurutnya, pola pengembangan koperasi yang dibuat seragam berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan ekonomi tiap wilayah.
“Kebutuhan masyarakat tiap kelurahan berbeda. Potensi usaha di Selumit tentu beda dengan Juata atau Tanjung Pasir,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







