Siklon Tropis Bavi di Filipina Picu Cuaca Ekstrem di Kaltara

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan cuaca ekstrem yang terjadi di Kalimantan Utara (Kaltara) dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi keberadaan Siklon Tropis Bavi yang aktif di wilayah perairan Filipina.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan saat ini Siklon Tropis Bavi berada di Laut Filipina, tepatnya di wilayah utara Papua bagian Filipina, sehingga memberikan dampak terhadap kondisi atmosfer di Kaltara.

“Saat ini wilayah perairan Kalimantan Utara mengalami dampak dari Siklon Tropis Bavi yang berada di perairan Filipina,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Kebut Pembangunan Jalan Sumalindo, Urat Nadi Ekonomi Apokayan

Menurutnya, keberadaan siklon tropis menyebabkan terbentuknya pusat tekanan udara rendah yang memiliki cakupan cukup luas. Karena letaknya relatif dekat dengan Kaltara, fenomena tersebut memicu tarikan massa udara dari wilayah Indonesia menuju Filipina.

Dalam perjalanannya, massa udara tersebut membawa kandungan uap air dalam jumlah besar yang kemudian meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Kaltara.

“Udara yang bergerak menuju Filipina membawa massa udara basah atau uap air yang cukup. Karena wilayah perairan kita masih berada dalam jangkauan luas Siklon Tropis Bavi, maka dampak cuaca buruknya sampai ke Kalimantan Utara,” jelasnya.

Baca Juga :  40 Tim Unjuk Kemampuan di Piala Gubernur Futsal Kaltara 2026

Ia menambahkan, apabila posisi siklon berada jauh di wilayah selatan, maka pengaruhnya terhadap Kaltara tidak akan sebesar kondisi saat ini karena berada di luar radius jangkauan sistem tersebut.

Selain menjelaskan pengaruh siklon tropis, ia juga menanggapi pertanyaan mengenai gempa bumi yang sempat dirasakan masyarakat Kaltara beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, jauh atau dekatnya dampak guncangan gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga dipengaruhi kedalaman gempa dan jarak lokasi gempa terhadap wilayah yang merasakan getaran.

Baca Juga :  Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Kaltara Capai 2,5 Meter pada 9-11 Juli

“Magnitudo bukan satu-satunya parameter. Kedalaman gempa dan jarak lokasi gempa terhadap tempat kita berada juga sangat mempengaruhi apakah guncangannya dapat dirasakan sampai ke wilayah kita atau tidak,” pungkasnya. (*)

Repoter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *