Jumlah Penari Dikurangi, Tarian Kolosal Iraw Tengkayu 2026 Tetap Angkat Filosofi Budaya Tidung

benuanta.co.id, TARAKAN – Tarian kolosal pada puncak perayaan Iraw Tengkayu 2026 tetap mengusung filosofi budaya Suku Tidung yang menitikberatkan pada hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Meski demikian, jumlah penari tahun ini dikurangi dibandingkan pelaksanaan sebelumnya karena penyesuaian kondisi anggaran.

Tokoh Budaya Suku Tidung Kota Tarakan, Datu Norbeck mengatakan, pengurangan jumlah penari memang memengaruhi kemeriahan pertunjukan. Namun, persiapan tetap dilakukan semaksimal mungkin dengan memanfaatkan pengalaman penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Memang sangat mempengaruhi, tapi karena ini sudah berkali-kali kita lakukan, terutama saya, jadi ada pengalaman. Pengalaman itu yang mempermudah pekerjaan berikutnya. Memang ada rasa yang kurang,” ujarnya.

Jika sebelumnya tarian kolosal melibatkan sekitar 200 penari, pada Iraw Tengkayu tahun ini jumlahnya menjadi sekitar 150 penari. “Dulu biasanya 200, sekarang cuma 150. Ya, kurang seru,” ujarnya.

Baca Juga :  HUT Bhayangkara ke-80, Kapolres Tarakan Tekankan Profesionalisme dan Kedekatan Polri dengan Masyarakat

Meski jumlah penari berkurang, Datu Norbeck memastikan koreografi yang ditampilkan tetap dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Setiap pelaksanaan kita bikin koreografi yang tidak sama dengan sebelumnya,” jelasnya.

Ia menerangkan, tarian kolosal tahun ini tetap dirangkai dari tiga sumber utama seni tradisi Tidung, yakni kesenian Joget Melayu Tidung, Jepin, dan Kelintangan.

Bagian pertama bertajuk Iluk Tengkayu, yang berasal dari Joget Melayu Tidung. Tarian ini menggambarkan kegembiraan masyarakat pesisir Suku Tidung yang bersukaria pada malam hari saat terang bulan.

Baca Juga :  Capaian Rendah, Aktivasi IKD di Tarakan Baru Capai 7 Persen

Bagian kedua berjudul Kelibambang, yang berarti kupu-kupu. Tarian tersebut menggambarkan seseorang yang menikmati keindahan kupu-kupu yang beterbangan sebagai simbol keindahan alam.

Sementara bagian ketiga adalah Iluk Rambai, yang diangkat dari kesenian Kelintangan melalui lagu berjudul Titik Rambai. Tarian ini menggambarkan aktivitas para perempuan dalam sebuah acara keramaian.

Menurutnya, meskipun konsep koreografi terus diperbarui setiap tahun, nilai filosofis yang diangkat tidak pernah berubah.

“Yang pertama hubungan manusia dengan manusia, kemudian hubungan manusia dengan alam, kemudian yang ketiga hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Intinya selalu ke sana,” ungkapnya.

Untuk komposisi penari, Datu Norbeck menjelaskan sebanyak 37 penari utama berasal dari Sanggar Budaya Tradisional Paguntaka. Sementara penari lainnya merupakan pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se-Kota Tarakan yang masing-masing sekolah mengirimkan sekitar 10 hingga belasan peserta.

Baca Juga :  Susi Air Ungkap Alasan Fuel Surcharge, Pastikan Seluruh Penumpang Direfund

“Penari utama dari Sanggar Budaya Tradisional Paguntaka ada 37 orang. Kemudian lainnya dari SLTA se-Kota Tarakan. Tiap SLTA ada sekitar 10 sampai belasan penari,” tuturnya.

Ia menambahkan, secara konsep seluruh persiapan telah rampung. Saat ini panitia hanya tinggal melakukan penyesuaian di lokasi pelaksanaan di kawasan Amal menjelang pementasan.

“Untuk konsep sudah, tinggal penyesuaian tempat. Mulai besok menyesuaikan di Amal,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *