benuanta.co.id, TARAKAN – Padaw Tuju Dulung yang menjadi ikon utama Festival Iraw Tengkayu bukan sekadar replika perahu adat. Di balik bentuk, warna, hingga ornamen yang menghiasinya tersimpan filosofi mendalam yang berasal dari tradisi masyarakat Tidung dan sejarah kejayaan Kerajaan Tarakan.
Budayawan Suku Tidung Kota Tarakan, Datu Norbeck menjelaskan, tiga warna khas yang melekat pada Padaw Tuju Dulung memiliki urutan dan makna tersendiri, yakni kuning, hijau, dan merah. “Kalau menyebutnya itu kuning, hijau, merah. Bukan merah, kuning, hijau,” ujarnya.
Ia menerangkan, warna kuning merupakan warna nomor satu dalam budaya Tidung yang melambangkan keagungan, kemuliaan, serta kedudukan yang paling tinggi. Sementara hijau melambangkan kepercayaan atau keyakinan, sedangkan merah melambangkan ketegasan yang dalam kondisi tertentu juga dimaknai sebagai keberanian.
Selain warna, terdapat ornamen tabur-tabur berupa bintang bersudut delapan berwarna kuning emas yang memiliki makna tersendiri. Menurut Datu Norbeck, bintang bersudut delapan melambangkan keramaian karena menggambarkan banyaknya orang yang datang dari delapan penjuru mata angin untuk berkumpul dalam suatu perayaan.
“Delapan penjuru angin itu maksudnya semua orang datang dari mana-mana. Itu melambangkan keramaian,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, secara historis Padaw Tuju Dulung merupakan kendaraan kebesaran Raja Tarakan yang hanya digunakan pada kegiatan-kegiatan tertentu. Perahu tersebut tidak selalu berada di laut, melainkan lebih banyak disimpan di darat dan hanya diturunkan ketika akan digunakan melalui prosesi khusus.
“Yang ramai itu justru prosesi penurunannya. Di lautnya tidak ramai, tetapi saat diturunkan itulah yang menjadi prosesi besar,” jelasnya.
Keberadaan Padaw Tuju Dulung berasal dari masa kejayaan Kerajaan Tarakan yang berlangsung sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-18. Namun setelah tahun 1731, ketika Kerajaan Tarakan berada di bawah kekuasaan Kesultanan Bulungan, tradisi pembuatan Padaw Tuju Dulung sebagai kendaraan kebesaran raja tidak lagi dilakukan.
“Karena etika, Raja Tarakan tidak lagi membuat Padaw Tuju Dulung setelah berada di bawah Bulungan,” ujarnya.
Tradisi tersebut kemudian dihidupkan kembali melalui Festival Iraw Tengkayu dalam bentuk replika sehingga tetap dapat diwariskan sebagai bagian dari budaya masyarakat Tidung hingga sekarang.
Ia juga menjelaskan nama Padaw Tuju Dulung secara harfiah berarti perahu tujuh haluan. Angka tujuh dipilih karena merujuk pada tujuh hari dalam sepekan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.
“Jumlah tujuh itu memang mengambil jumlah hari dalam seminggu. Senin sampai Minggu, kemudian kembali lagi ke Senin,” tuturnya.
Tak hanya angka tujuh, berbagai angka lain dalam prosesi Iraw Tengkayu juga memiliki makna penanggalan, seperti angka 30 yang melambangkan jumlah hari dalam satu bulan dan angka 12 yang melambangkan jumlah bulan dalam satu tahun.
Dari sisi konstruksi, Datu Norbeck mengatakan bentuk Padaw Tuju Dulung yang digunakan saat ini pada dasarnya tetap sama dari tahun ke tahun. Perubahan hanya terjadi pada material pembuatannya yang mengikuti perkembangan zaman.
Dahulu, badan perahu dibuat menggunakan papan kayu yang kemudian dibungkus kain berwarna karena cat belum dikenal masyarakat saat itu. Kini, material tersebut digantikan dengan plywood tanpa mengubah filosofi maupun bentuk aslinya.
“Material berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi esensinya tetap sama,” terangnya.
Ia mengungkapkan, ukuran Padaw Tuju Dulung asli pada masa Kerajaan Tarakan mencapai tujuh depa atau sekitar 12 meter. Sedangkan replika yang digunakan dalam Festival Iraw Tengkayu saat ini memiliki panjang sekitar tujuh meter sehingga lebih mudah digunakan dalam prosesi budaya.
Meski para pembuatnya telah berganti dari generasi ke generasi, Datu Norbeck memastikan bentuk Padaw Tuju Dulung tetap dipertahankan karena seluruh pengerjaan telah mengacu pada gambar konstruksi dan pola arsitektur yang sama.
“Sudah ada regenerasi. Tukangnya berganti, tetapi konsepnya tetap sama karena sekarang sudah menggunakan gambar konstruksi. Jadi ukurannya dari dulu tetap sama mengikuti pola yang sudah dibuat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







