benuanta.co.id, BULUNGAN – Pemprov Kalimantan Utara (Kaltara) terus mendorong percepatan penanganan Jalan Sumalindo yang menghubungkan Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim), dengan Kabupaten Malinau. Penanganan jalan sepanjang 147 kilometer itu dilakukan secara bertahap melalui kerja sama dengan berbagai pihak agar akses di wilayah perbatasan segera membaik.
Kepala Bapperida Kaltara, Bertius, mengatakan saat ini proses pembangunan sudah mulai berjalan. Perbaikan dikerjakan oleh perusahaan pengembang PLTA Batoq Kelo, PT Tujuan Mulia Makmur (TMM), yang menangani ruas hingga kilometer 122 atau batas Kaltim dan Kaltara.
“Saat ini prosesnya sudah berjalan. Jembatan-jembatan di beberapa titik sudah mulai dibangun dan alat berat juga sudah berada di lokasi,” kata Bertius Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, pembangunan jalan ini bukan hanya untuk memperbaiki akses transportasi, tetapi juga menjadi upaya menggerakkan perekonomian masyarakat di wilayah Apokayan. Selama ini jalan tersebut menjadi satu-satunya jalur darat yang digunakan warga untuk distribusi logistik, hasil usaha, hingga mobilitas masyarakat.
“Jalan ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Apokayan. Distribusi barang maupun mobilitas masyarakat sangat bergantung pada jalur ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketika kondisi jalan membaik, biaya distribusi logistik diharapkan ikut menurun sehingga kebutuhan pokok masyarakat lebih mudah diperoleh. Selain itu, akses yang lancar juga diyakini dapat membuka peluang investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan.
Pengerjaan jalan dilakukan karena perusahaan juga membutuhkan akses yang layak untuk membawa peralatan proyek PLTA. Hal itu menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempercepat penanganan jalan yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan.
Pemprov Kaltara pun optimistis pengerjaan ruas tersebut akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Setidaknya, perbaikan ditargetkan dapat menjangkau hingga kilometer 95 terlebih dahulu sebelum diteruskan ke titik berikutnya.
“Kami berharap tahun ini ada progres yang signifikan. Paling tidak sampai kilometer 95 sudah bisa diselesaikan sehingga akses masyarakat mulai terbuka,” katanya.
Sementara itu, untuk ruas kilometer 122 hingga 147, Pemprov Kaltara masih menyiapkan kerja sama dengan PT TMM. Dalam waktu dekat, pemerintah akan bertemu dengan manajemen perusahaan di Jakarta untuk membahas dukungan pembangunan pada ruas yang belum masuk dalam pekerjaan.
“Kerja sama dengan perusahaan saat ini baru sampai kilometer 122. Karena itu kami akan membahas agar ruas 122 sampai 147 juga bisa ikut ditangani,” jelas Bertius.
Ia menambahkan, tantangan terbesar pembangunan bukan terletak pada persoalan perizinan, melainkan pengiriman material ke lokasi pekerjaan. Sebagian besar material harus didatangkan dari Samarinda sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan jalur sungai.
“Kalau cuaca buruk atau air sungai surut, pengiriman material pasti ikut terhambat. Itu yang paling berpengaruh terhadap progres pekerjaan di lapangan,” tutupnya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli







