Acuan Kalender Hijriyah Global Tunggal, Muhammadiyah Kaltara Tetapkan 1 Syawal Jumat

benuanta.co.id, TARAKAN – Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, menggunakan sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Utara (Kaltara), H. Syamsi Sarman menjelaskan, metode yang digunakan Muhammadiyah tidak lagi berbasis rukyat lokal di Indonesia, melainkan menggunakan prinsip global, yakni melihat kemunculan hilal di seluruh dunia.

“Nah untuk menjamin kemungkinan sama itu saya tidak tahu ya. Dari Muhammadiyah kan jelas menentukan hari Jumat. Dengan kami sistemnya sekarang adalah KHGT, Kalender Hijriyah Global Total,” ujarnya, Rabu (17/3/2026).

Menurutnya, dalam sistem tersebut, awal bulan hijriah ditentukan berdasarkan kemunculan hilal di wilayah mana pun di dunia. Ia mencontohkan penetapan awal Ramadan sebelumnya yang lebih dulu karena hilal sudah terlihat di Alaska, Amerika Serikat.

Untuk penetapan 1 Syawal, ia menyebut hilal juga telah memenuhi kriteria secara global, meskipun di Indonesia ketinggiannya masih bervariasi.

“Yang 1 Syawal juga masih di Alaska dan beberapa negara di Timur Tengah itu bulan sudah tinggi sampai 5 derajat. Di Indonesia bulan tertinggi ada di Aceh 3 derajat, di Jakarta itu 1 derajat,” jelasnya.

Ia menegaskan, Muhammadiyah menganggap kondisi tersebut sudah cukup untuk menetapkan masuknya 1 Syawal tanpa menunggu hasil rukyat pemerintah. “Hari Jumat tanggal 20, nggak pakai nunggu bulan, pasti sudah itu,” tegasnya.

Selain penetapan hari raya, Muhammadiyah juga telah menyiapkan sejumlah lokasi pelaksanaan Salat Id di Kota Tarakan yang tersebar di tiap kecamatan.

Di wilayah utara, Salat Id dipusatkan di Pelabuhan SDF Tengkayu, dengan lokasi cadangan di Masjid Al-Amin apabila terjadi hujan.

Sementara di wilayah barat, Salat Id dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tarakan, dengan cadangan di aula sekolah tersebut. Untuk wilayah tengah, dipusatkan di halaman gedung DPRD dengan cadangan di Masjid Gerdaus.

“Kalau yang SMA 1 tadi barat, di tengah itu halaman DPRD, cadangannya di Masjid Gerdaus. Timur itu Al-Amin tadi di Pelabuhan Tengkayu, utaranya di Pesantren MBS,” rincinya.

Kendati demikian, ia mengakui potensi perbedaan penetapan 1 Syawal dengan pemerintah masih mungkin terjadi, karena pemerintah menggunakan kesepakatan regional bersama negara-negara MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura).

“Kalau dari 4 negara itu belum mencapai derajat yang disepakati, maka tidak jadi kita Jumat itu, pemerintah jadi 21,” ungkapnya.

Namun, ia berharap terdapat kesamaan penetapan agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat. Pihaknya berharap Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi toleransi apabila terjadi perbedaan hari raya.

“Kami tentu menjaga toleransinya. Walaupun sudah tidak puasa, walaupun sudah lebaran, ya tentu kita tidak ramai-ramai. Apalagi Muhammadiyah kan tidak pernah mengamalkan takbir keliling,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman toleransi tersebut juga telah terjadi di daerah lain, seperti di Bali saat perayaan Nyepi yang berdekatan dengan ibadah umat Islam.

“Di Bali saja Muhammadiyah dapat pujian dari Menteri Agama. Nyepi dan tarawih bisa jadi satu. Di satu sisi kita lagi tarawihan, tapi hari raya Nyepi juga berjalan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *