benuanta.co.id, BULUNGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara (Kaltara) hingga kini terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) yang hingga kini masih menjadi salah satu program prioritas di bidang kesehatan.
Rendahnya angka penemuan kasus dan tingkat keberhasilan pengobatan menjadi tantangan besar yang dihadapi pemerintah daerah dalam menekan penyebaran penyakit menular tersebut.
Saat dikonfirmasi Kepala Dinkes Kaltara, Usman, mengatakan berdasarkan estimasi, jumlah masyarakat yang diduga terpapar TB di Kaltara mencapai sekitar 15 ribu orang. Namun, dari jumlah tersebut, kasus yang berhasil ditemukan dan tercatat masih tergolong rendah.
“Kalau angka terduga itu sekitar 15 ribu. Kemudian yang termonifikasi atau tercatat yang berhasil ditemukan itu baru sekitar 1.700-an,” sebutnya, Ahad (31/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih banyak penderita TB di Kaltara yang belum terdeteksi dan belum mendapatkan pengobatan. Padahal, penemuan kasus secara dini menjadi langkah utama dalam memutus rantai penularan TB di masyarakat.
Usman menjelaskan, strategi penanggulangan TB tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien. Tetapi juga bagaimana menemukan penderita sedini mungkin agar segera mendapatkan penanganan hingga sembuh total.
“Sebenarnya tugas kita bagaimana upaya menemukan yang terduga tadi. Kalau penderita ditemukan dan diobati sampai sembuh, maka penularan bisa ditekan,” jelasnya.
Untuk mempercepat penemuan kasus, Dinkes Kaltara mendorong keterlibatan pemerintah desa melalui gerakan terpadu deteksi dini TB di lingkungan masyarakat. Menurutnya, pemerintah desa memiliki peran penting karena lebih dekat dengan warga dan dapat membantu menemukan masyarakat yang masuk kategori suspek TB.
“Kalau desa bisa bergerak bersama melakukan penemuan dini. Maka upaya eliminasi atau menekan kasus TB ini akan lebih maksimal,” jelasnya.
Selain rendahnya angka penemuan kasus, Dinkes Kaltara juga menghadapi tantangan pada tingkat keberhasilan pengobatan pasien TB yang masih berada di bawah 70 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pasien yang putus pengobatan atau belum tertangani secara optimal. Padahal, penderita TB yang tidak diobati berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
“Kalau penderita tidak ditemukan dan tidak diobati, maka dia bisa menularkan ke orang lain,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina







