Kunjungi PLBN Labang, Rahmawati Soroti Kebutuhan Nakes di Wilayah Perbatasan

benuanta.co.id, TARAKAN – Anggota Komisi VII DPR RI, Hj. Rahmawati, menyoroti sejumlah kebutuhan mendesak di kawasan perbatasan usai melakukan kunjungan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Labang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Dalam kunjungannya, Rahmawati menempuh perjalanan panjang sekitar lima jam menyusuri sungai di pedalaman perbatasan Kalimantan untuk mencapai PLBN yang berada di wilayah terdepan Indonesia tersebut.

Menurutnya, perjalanan yang melewati bebatuan dan giram itu terbayar saat tiba di lokasi dan bertemu langsung dengan para petugas yang bertugas menjaga beranda Indonesia di perbatasan dengan Malaysia.

“Karena itu adalah berandanya Indonesia, perbatasan antara dua negara. Saya melihat mereka senang di sana karena baik dari pihak imigrasi maupun komandan penjagaan dilakukan rolling setahun sekali,” ujarnya.

Baca Juga :  Sekprov Kaltara Tekankan Pentingnya Kolaborasi Pembangunan Pangan

Ia mengapresiasi fasilitas yang tersedia di PLBN Labang. Menurutnya, bangunan yang berdiri di kawasan tersebut dibangun dengan sangat baik dan memberikan kenyamanan bagi para petugas yang bertugas.

Kendati demikian, Rahmawati mengungkapkan adanya satu kebutuhan yang menjadi keluhan utama para petugas maupun masyarakat sekitar, yakni belum tersedianya tenaga kesehatan (nakes) yang siaga di kawasan perbatasan tersebut.

Menurutnya, keberadaan tenaga kesehatan sangat penting untuk memberikan pertolongan pertama apabila terjadi kondisi darurat.

“Hanya ada sedikit keluhan dari mereka bahwa perlunya adanya nakes. Bisa perawat atau mantri yang ada di sana. Kalau misalnya ada kecelakaan, ada yang jatuh atau kondisi darurat pada malam hari, untuk dibawa ke puskesmas terdekat memerlukan waktu kurang lebih empat jam,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dinkes Kaltara Perkuat Deteksi Dini Tuberkulosis, Kasus Terduga Capai 15 Ribu Orang

Selain untuk menangani kecelakaan, keberadaan tenaga kesehatan juga dinilai penting bagi masyarakat sekitar apabila terjadi kondisi darurat seperti persalinan maupun sakit mendadak.

Rahmawati menjelaskan kondisi geografis wilayah tersebut memang tergolong kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hingga saat ini akses menuju lokasi belum dapat ditempuh melalui jalur darat.

“Karena namanya perbatasan 3T dan kita ke sana belum ada jalan lewat darat. Jadi kita lewat sungai dengan menempuh perjalanan lebih kurang lima jam. Sedangkan ke Malaysia hanya satu jam sampai ke kecamatannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Ingkong Ala Pimpin DAD Kaltara, Tekankan Persatuan Masyarakat Adat

Baginya, keberadaan PLBN memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan dan pengawasan lalu lintas orang maupun barang di wilayah perbatasan.

Terkait kebutuhan tenaga kesehatan, Rahmawati menilai penanganannya tidak harus menunggu kebijakan dari pemerintah pusat. Menurutnya, pemerintah kabupaten dapat menempatkan tenaga kesehatan secara bergiliran di kawasan tersebut.

“Tidak perlu dokter, yang penting tenaga nakes itu bisa perawat atau mantri yang bisa di-rolling mungkin dari kabupaten atau pusat-pusat kesehatan terdekat, misalnya seminggu sekali diganti,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *