benuanta.co.id, TARAKAN – Pengusaha sapi di Tarakan mengaku mengalami kerugian besar akibat membludaknya pasokan sapi dari luar daerah yang dinilai tidak terkendali saat menjelang Iduladha 1447 Hijriah lalu.
Hal ini diungkapkan Ketua Koperasi Sahabat Maju Sejahtera (SMS) Tarakan, Syamsurijal pasca perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Ia mengatakan, kelebihan stok sapi membuat banyak hewan kurban tidak terjual hingga berbulan-bulan. Dampaknya, biaya pemeliharaan terus membengkak sementara harga jual justru turun drastis di pasaran.
“Kalau sapi tidak laku, biaya terus jalan. Ini (sapi) makhluk hidup, harus diberi makan, vitamin, obat cacing, dan dijaga kesehatannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rata-rata biaya pemeliharaan mencapai Rp15 ribu per ekor setiap hari. Dalam sebulan biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp450 ribu per ekor. Jika sapi dipelihara selama 10 bulan, total biaya tambahan mencapai sekitar Rp4,5 juta.
Ia memperkirakan jika dalam setahun sapi-sapi tersebut tidak laku terjual makan secara otomatis biaya perawatan sapi akan makin membengkak. Menurutnya, kondisi tersebut diperparah karena pemasok dari luar daerah juga ikut menjual langsung sapi kepada masyarakat, bukan hanya memasok ke pengusaha lokal.
Padahal, pengusaha lokal selama ini membeli sapi dari pemasok untuk kemudian dipelihara dan dijual kembali. “Itu yang sebenarnya jadi masalah. Pemasok menjual sendiri, akhirnya pengusaha lokal tertekan,” tegasnya.
Syamsurijal mengungkapkan, saat ini masih banyak sapi tersisa di sejumlah kandang anggota koperasi. Dari pendataan sementara di beberapa lokasi, sedikitnya masih terdapat puluhan ekor sapi yang belum terjual.
“Baru empat sampai enam orang anggota yang kami data, sisanya sudah sekitar 42 ekor lebih. Bisa sampai 100 ekor lebih kalau semua dihitung,” sebutnya.
Ia menambahkan, kelebihan stok juga berdampak pada kesehatan sapi. Tahun lalu, sedikitnya lima ekor sapi terpaksa dipotong paksa karena mengalami cedera akibat terlalu lama dipelihara. “Ada yang patah kaki dan harus dipotong paksa. Modalnya ada yang Rp35 juta, tapi akhirnya dijual murah berdasarkan hitungan daging,” sebutnya.
Menurutnya, kerugian pengusaha bisa mencapai ratusan juta rupiah akibat kondisi tersebut.
Selain rugi secara ekonomi, para pengusaha juga mengaku kecewa karena merasa kurang mendapat perhatian pemerintah.
“Inilah yang tidak pernah dipikirkan pemerintah. Mungkin dipikir, tapi tidak ada empati,” tuturnya.
Dirinya menegaskan, para pengusaha sapi tidak menolak kehadiran pemasok dari luar daerah. Namun, mereka meminta adanya pengaturan distribusi yang jelas agar pasokan tetap terkendali sesuai kebutuhan daerah.
“Kami tidak ingin menguasai pasar sendiri. Yang kami mau usaha ini harmonis dan kondusif,” terangnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Tarakan bersama dinas teknis segera memfasilitasi pertemuan antara pemasok dan pengusaha lokal untuk mencari solusi bersama. “Mudah-mudahan lewat pemberitaan ini pemerintah bisa lebih serius melihat kondisi kami,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







