benuanta.co.id, TARAKAN – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Tarakan kembali mengungkap tiga kasus peredaran narkotika yang melibatkan beberapa tersangka dengan total barang bukti mencapai lebih dari 800 gram sabu.
Kasat Resnarkoba Polres Tarakan, IPTU Hendra Tri Susilo, mengungkapkan kasus tersebut berasal dari tiga laporan polisi (LP), dua di antaranya ditangani Polres Tarakan dan satu merupakan limpahan dari Polda Kalimantan Utara.
“Ada 3 LP, dua dari kami dan satu dari Polda Kaltara,” ungkapnya, Rabu (15/4/2026).
Ia menyebutkan, total barang bukti yang diamankan dari ketiga kasus tersebut mencapai 802,43 gram sabu, dengan sebagian kecil disisihkan untuk kepentingan pembuktian di pengadilan.
“Total barang bukti 802,43 gram, yang disisihkan untuk pengadilan masing-masing berbeda,” jelasnya.
Untuk tersangka pertama berinisial JI, polisi menyisihkan 0,5 gram sabu. Sementara tersangka kedua berinisial AI disisihkan 1,5 gram, dan tersangka ketiga berinisial M disisihkan 3,81 gram.
“Semua disisihkan untuk kebutuhan pembuktian di persidangan,” tegasnya.
Pengungkapan kasus pertama dilakukan pada 12 Februari 2026 di Jalan Gajah Mada, hasil kerja sama dengan Badan Intelijen Strategis (BAIS). Tersangka JI diamankan saat hendak melakukan transaksi dengan pembeli.
“Saat itu tersangka sedang menunggu pembeli, perannya sebagai penjual,” bebernya.
Sementara itu, tersangka AI dalam kasus kedua diketahui merupakan bagian dari jaringan peredaran narkotika yang sudah beroperasi lintas wilayah. Ia bahkan pernah berhasil menyelundupkan sabu sebelumnya dari luar negeri.
”Tersangka ini sudah pernah lolos sebelumnya, jadi sudah termasuk jaringan,” katanya.
Dalam aksinya kali ini, AI turun langsung menjemput barang yang rencananya akan dibawa ke Banjarmasin melalui jalur Tawau. Ia juga dijanjikan upah cukup besar untuk pengiriman tersebut.
“Upah yang dijanjikan kurang lebih Rp30 juta,” ujarnya.
Lebih lanjut, polisi masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan yang lebih luas, termasuk memburu sosok pengendali yang diduga berada di wilayah Kalimantan.
“Identitas pengendali masih kita dalami dan terus kita kembangkan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







