Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Pengaruhi Inflasi Tarakan April 2020

TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan merilis data inflasi selama April 2020. Telah terjadi inflasi sebesar 0,20 persen di Kota Tarakan.

Dari 90 kota pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara nasional, pada April 2020 sebanyak 39 kota mengalami deflasi dan 51 kota lainnya terjadi deflasi. Inflasi tertinggi di Kota Bau-bau sebesar 0,88 persen dan inflasi terendah Kota Balikpapan 0,02 persen.

Deflasi tertinggi pada Kota Pangkal Pinang sebesar -0,92 persen dan deflasi terendah terdapat pada Kota Bogor -0,02 persen.

Diketahui, inflasi di Kota Tarakan dipengaruhi oleh indeks pada 5 kelompok teratas yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,57 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,25 persen, kelompok perlengkapan, peralatan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,00 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,00 persen.

Sedangkan deflasi Kota Tarakan dipengaruhi penurunan indeks pada transportasi sebesar -1,99 persen dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -1,10 persen.

Kelompok utama penyumbang inflasi adalah bayam 0,1944 persen, sawi hijau 0,1447 persen, kangkung 0,1339 persen, emas perhiasan 0,1155 persen, dan telur ayam ras 0,0908 persen.

“Bayam ada kenaikan harga, terutama di awal minggu, menurut informasi yang kami dapat dari pedagang kenaikan harga dikarenakan jumlah panen berkurang,” terang Kepada kantor BPS Kota Tarakan Imam Sudarmaji melalui Kepala Seksi Distribusi Dika Taranita.

Sementara itu, komoditas utama penyumbang deflasi adalah daging ayam ras -0,2573 persen, angkutan udara -0,2252 persen, udang basah -0,0867, biaya pulsa ponsel -0,0722 dan cabai merah -0,0132 persen.

“Untuk ayam mengalami penurunan harga, seperti di pasar tradisional Gusher harganya seragam sesuai spanduk yang mereka pajang, di awal minggu Rp 35 ribu/kg ayam yang sudah bersih kemudian turun lagi jadi Rp 32 ribu/kg bersih,” ujar Dika kepada benuanta.co.id, Jumat 8 Mei 2020.

Emas perhiasan selama wabah Covid-19 mengalami kenaikan harga, menurut BPS Kota Tarakan, karena adanya ketidakpastian ekonomi membuat investor memilih untuk berinvestasi aset aman yaitu emas.

“Permintaan emas naik, emas masalah global ya, nilai tukar rupiah terhadap dollar juga berpengaruh. Angkutan udara turun, tapi penurunannya tidak setinggi bulan lalu, karena permintaan berkurang akibat adanya PSBB,” tandas Dika.

Ditambahkannya, selama wabah Covid-19 memang terjadi peningkatan kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) hanya saja ini tidak mempengaruhi data inflasi karena APD belum masuk komoditas inflasi Kota Tarakan.

“Iya belum masuk paket komoditas inflasi Tarakan jadi tidak berpengaruh,” tutupnya.(*)

Reporter: Ramli
Editor : M. Yanudin

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *