Perlahan tetapi pasti, identitas permainan yang diinginkan Herdman mulai terlihat dalam tubuh tim Garuda. Memang belum sempurna, tetapi banyak yang sepakat bahwa kemenangan 3-0 atas timnas Oman merupakan penampilan terbaik Indonesia di bawah arahan pelatih asal Inggris tersebut.
Kemenangan itu juga mengakhiri catatan buruk Indonesia saat menghadapi wakil Timur Tengah tersebut. Sebelumnya, tim Garuda tidak pernah menang atas Oman dalam 38 tahun terakhir. Menariknya, kemenangan terakhir Indonesia atas Oman terjadi pada 1988 dengan skor yang sama, yakni 3-0.
Yang tak kalah penting, kemenangan ini diraih atas tim yang menempati peringkat ke-79 dunia, atau 43 tingkat lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di posisi ke-122 ranking FIFA.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa posisi dalam ranking FIFA tidak selalu mencerminkan kekuatan sesungguhnya sebuah tim di lapangan. Pandangan serupa juga disampaikan pelatih Oman, Tarik Sektioui, yang menilai perbedaan peringkat tidak selalu menggambarkan jarak kualitas yang sebenarnya.
“Peringkat mereka saat ini tidak mencerminkan kualitas permainan yang sebenarnya, terutama dengan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Sektioui dalam jumpa pers selepas pertandingan di SUGBK, Jumat.
Dominan. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan jalannya pertandingan. Memang, statistik Lapangbola mencatat Indonesia hanya unggul tipis dalam penguasaan bola, yakni 57 persen berbanding 43 persen milik Oman.
Namun, siapa pun yang menyaksikan laga ini akan memahami bahwa tim Garuda benar-benar mengendalikan permainan. Padahal, Indonesia belum tampil dengan kekuatan terbaik karena absennya sejumlah pemain kunci seperti Jay Idzes, Thom Haye, Miliano Jonathans, Mees Hilgers, dan Marselino Ferdinan.
Dominasi tersebut tercermin dari produktivitas serangan. Indonesia melepaskan 10 tembakan, enam di antaranya mengarah tepat ke gawang, dan tiga berbuah gol melalui Justin Hubner pada menit ke-13, Ole Romeny pada menit ke-27, serta Ragnar Oratmangoen pada menit ke-56.
Tak hanya lini depan yang tampil impresif, sektor pertahanan juga layak mendapat apresiasi. Trio bek tengah Rizky Ridho, Elkan Baggott, dan Justin Hubner tampil solid dalam skema 3-4-3 meski tanpa komando sang kapten, Jay Idzes, yang absen karena masih menjalani pemulihan cedera.
Meski demikian, lini belakang Indonesia tidak sepenuhnya tanpa cela. Beberapa kali masih terlihat celah yang bisa dimanfaatkan lawan. Salah satunya terjadi ketika Hubner terlambat melakukan tekel terhadap bek kanan Oman, Amjad Al-Harthi, di dalam kotak penalti.
Wasit asal Singapura, Muhammad Taqi, tanpa ragu menunjuk titik putih. Keputusan itu menjadi hukuman atas tindakan ceroboh bek Fortuna Sittard tersebut.
Namun, itulah sepak bola. Olahraga yang menjunjung tinggi kerja sama tim ini selalu menunjukkan bahwa ketika satu pemain melakukan kesalahan, pemain lain bisa hadir untuk memperbaikinya.
Peran itu dimainkan dengan sempurna oleh Emil Audero. Kiper kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, tersebut menyelamatkan Justin Hubner dari malam yang berpotensi berubah pahit.
Audero menggagalkan eksekusi Harek Alrhubasari pada menit ke-38, sekaligus menjaga keunggulan Indonesia tetap aman.
Penyelamatan itu menjadi salah satu dari empat penyelamatan yang dicatatkan kiper berdarah Mataram, Nusa Tenggara Barat tersebut.
Seusai laga, Herdman berulang kali memuji aksi Audero, yang menurutnya sangat penting untuk menjaga momentum positif Garuda yang sedang unggul dua gol menjelang turun minum.
Andai penalti itu berbuah gol, mungkin saja kemenangan meyakinkan ini tak terjadi. Jalannya pertandingan akan berubah dan dengan satu gol lagi tim berjuluk Al-Ahmar (Si Merah) bisa menyamakan kedudukan, bahkan bisa keluar sebagai pemenang karena angin kedua yang mereka dapatkan.
Kendati panen pujian, Audero tak merasa besar kepala. Aksinya dalam membuat penyalamatan-penyelamatan adalah bagian dari tugas hariannya sebagai kiper.
Lagi pula, empat penyelamatan yang dicatatkan Audero saat menghadapi Oman bukanlah hasil kerja individu semata. Catatan tersebut lahir dari kerja kolektif lini pertahanan yang tampil disiplin sepanjang pertandingan.
Para pemain belakang konsisten melakukan intersep, sapuan, dan blok penting, sekaligus mempersempit ruang tembak lawan. Dengan organisasi pertahanan yang rapi, para pemain Oman kerap dipaksa melepaskan tembakan dari posisi yang kurang ideal, sehingga tugas Audero di bawah mistar gawang menjadi lebih terukur.
Tetap rendah hati
Indonesia bermain cantik, enak ditonton. Umpan kaki ke kaki, banyak kombinasi. Para pemain bergerak aktif tanpa bola. Semua pemain terlibat.
Semua bisa menjadi pemain bertahan, begitu juga semua pemain bisa mencetak gol ke gawang lawan.
Hubner muncul di kotak penalti lawan untuk menyundul bola umpan Nathan Tjoe-A-On dalam skema bola mati, Oratmangoen menyelesaikan skema indah dari permainan terbuka, dan Romeny menjadi predator menakutkan untuk menghukum kesalahan lawan.
Semua perkembangan ini dilakukan Herdman dalam kurun waktu lima bulan saja, dan mungkin kurang satu bulan jika dihitung waktu efektifnya bersama tim Garuda.
Namun, alih-alih terlalu menikmati kemenangan ini, Herdman justru mengajak timnya untuk tetap rendah hati.
Menurut Hardnan, dalam sepak bola, semua bisa berubah dengan cepat. Oleh karena itu, rasa bangga timnya atas kemenangan ini harus diimbangi dengan kerendahan hati dan sebuah kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk berkembang.
“Kami harus tetap rendah hati,” kata Herdman pada sesi jumpa pers di SUGBK, Jumat, sembari mengingatkan bahwa masih ada laga melawan Mozambik pada Selasa (9/6) yang juga harus dituntaskan dengan kemenangan.
Mozambik adalah lawan terakhir Indonesia di jendela pertandingan bulan ini. Tim asal Afrika itu, secara peringkat FIFA, di bawah Oman yang dikalahkan 3-0. Mereka ada di peringkat 101 dunia, lebih dekat dengan Indonesia.
Memang, kemenangan tiga gol atas Oman membuat kita sedikit terbang tinggi. Kita percaya diri. Optimistis, akan menang lebih mudah menghadapi tim nasional berjuluk Os Mambas (Ular Mamba) itu.
Namun, Herdman menolak berpikir seperti itu. Bola itu bundar. Ia meyakini semuanya bisa terjadi di dunia sepak bola, termasuk kemungkinan timnya di tangan Mozambik.
Bekal ke Piala Asia 2027
Ada satu pesan penting yang tersirat dari kemenangan malam itu: tim Garuda memiliki potensi besar untuk menjadi penantang serius di level Asia, bahkan memberikan kejutan di panggung yang lebih tinggi.
Keberhasilan menundukkan tim yang berada jauh di atas Indonesia dalam ranking FIFA menjadi indikasi bahwa proyek yang sedang dibangun John Herdman bergerak ke arah yang tepat. Dalam waktu yang relatif singkat, pelatih asal Inggris tersebut mulai membentuk identitas permainan yang jelas, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan tim-tim terbaik di kawasan.
Lebih dari itu, perkembangan yang ditunjukkan Indonesia memberi gambaran bahwa Herdman memiliki kapasitas untuk membawa tim Garuda melangkah ke level yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Piala Asia 2027 menjadi panggung terdekat untuk menguji sejauh mana perkembangan tersebut. Turnamen yang akan berlangsung di Arab Saudi pada Januari 2027 itu menjadi tolok ukur penting sebelum Indonesia kembali berjuang di Kualifikasi Piala Dunia 2030 pada tahun yang sama.
Indonesia, yang mencatat sejarah dengan menembus babak 16 besar Piala Asia 2023 untuk pertama kalinya, akan menghadapi tantangan berat di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand. Khusus menghadapi Jepang, pertemuan ini menjadi babak baru dari rivalitas yang mulai terbentuk setelah kedua tim juga berada dalam grup yang sama pada edisi sebelumnya.
Sementara itu, Oman yang baru saja dikalahkan Indonesia tergabung di Grup A bersama tuan rumah Arab Saudi, Kuwait, dan Palestina.
Yang pasti, penampilan Indonesia di bawah arahan Herdman menunjukkan bahwa tim ini berada di jalur yang tepat. Target menuju Piala Dunia 2030 memang masih jauh dan penuh tantangan, tetapi fondasi yang dibangun saat ini terlihat semakin kokoh.
Perjalanan menuju turnamen terbesar sepak bola dunia itu tentu tidak akan mudah. Namun, apa yang diperlihatkan tim Garuda dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kemenangan meyakinkan atas Oman, memberi alasan bagi publik untuk kembali percaya. Bahwa mimpi tampil di Piala Dunia bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan tujuan yang perlahan mulai tampak dalam jangkauan.
Sumber ; Antara








