Di Tengah Era Digitalisasi, Minat Baca Buku Pelajar di Tarakan Masih Terjaga

benuanta.co.id, TARAKAN – Kebiasaan membaca di kalangan pelajar Kota Tarakan masih cukup terjaga. Namun, seiring perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses media sosial membuat sebagian besar siswa lebih sering memperoleh informasi melalui ponsel dibandingkan buku fisik.

Hal itu terungkap dari hasil wawancara terhadap sejumlah pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Tarakan terkait kebiasaan membaca sehari-hari.

Siswi Kelas VI SD Patra Dharma Tarakan, Sakhira Cintia, mengaku memiliki kebiasaan membaca yang cukup rutin. Ia biasanya meluangkan waktu pada siang hari saat istirahat, ketika memiliki waktu luang, atau sebelum tidur.

“Biasanya saya membaca sekitar 15 menit. Tapi kalau artikelnya menarik atau cerita bukunya seru, saya bisa membaca sampai 20 menit atau lebih,” ujarnya.

Sakhira mengatakan dirinya menyukai buku fiksi bergenre horor karena penuh misteri dan menegangkan. Selain itu, ia juga gemar membaca artikel berita untuk mengetahui informasi dan kejadian terbaru. Menurutnya, program literasi yang diterapkan sekolah turut membantu membangun kebiasaan membaca. Setiap siswa diwajibkan membaca selama 15 menit dalam kegiatan literasi sekolah.

“Bagi saya membaca itu sangat menghibur dan menambah wawasan. Apalagi kalau sudah menemukan buku horor yang seru atau artikel berita yang menarik,” bebernya.

Hal senada disampaikan Siswa Kelas VI SD Patra Dharma Tarakan, Jaden. Ia mengaku biasanya membaca ketika sedang belajar dengan durasi sekitar dua jam setiap hari. Jaden menyukai buku cerita petualangan dan bacaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ia juga mengungkapkan sekolah mewajibkan siswa membaca minimal 15 menit setiap hari.

Baca Juga :  Tarif Tiket Pesawat Penyumbang Terbesar Inflasi Tarakan pada Mei 2026

“Saya rajin membaca karena ingin menambah wawasan dan membuat bangga orang tua,” ujarnya.

Kendati demikian, Jaden mengakui lebih senang membaca unggahan atau komentar di media sosial karena informasinya lebih singkat dan mudah dipahami.

Sementara itu, siswi kelas VIII-3 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 13 Tarakan, Moza Amelia Fitry, mengaku lebih sering membaca melalui ponsel dibandingkan buku fisik karena dinilai lebih praktis dan mudah diakses kapan saja.

“Kalau membaca buku fisik tidak terlalu menentu. Kadang sekitar 25 menit sampai satu jam kalau topiknya menarik, tapi kadang hanya tiga lembar saja tergantung jadwal hari itu,” tuturnya.

Moza mengaku menyukai bacaan edukatif, horor, dan aksi karena dianggap tidak membosankan serta mampu mendorong pembaca berpikir kritis. Selain itu, ia juga tertarik membaca literatur tentang teknologi dan tren terbaru. Menurutnya, sekolah memiliki program literasi yang mewajibkan siswa membaca dan merangkum isi buku sebagai bagian dari tugas pembelajaran.

Ia menilai minat membaca biasanya meningkat ketika topik yang dibahas relevan dengan minat atau sedang menjadi perbincangan publik.

“Sebaliknya, rasa malas muncul jika gaya bahasanya terlalu kaku, alurnya tidak jelas, atau terlalu teoritis tanpa contoh praktis,” jelasnya.

Terkait media sosial, Moza menilai unggahan dan komentar terasa lebih hidup, singkat, serta langsung pada inti pembahasan sehingga lebih mudah dipahami dibandingkan buku yang tebal.

Baca Juga :  Polisi Dalami Laporan Dugaan Penyebaran Data Pribadi yang Menyeret Dirut PDAM Tarakan

Pandangan serupa diungkapkan siswi kelas VIII-3 SMPN 13 Tarakan, Syarifah Fauziah Alkaf. Ia biasanya membaca saat memiliki waktu luang setelah pulang sekolah atau sebelum tidur dengan durasi sekitar 15 hingga 30 menit per hari.

“Kalau sedang tertarik dengan isi buku, saya bisa membaca lebih lama,” tuturnya.

Syarifah mengaku menyukai novel, komik, cerita petualangan, dan artikel pengetahuan di internet. Ia juga menyebut sekolah rutin melaksanakan kegiatan literasi sebelum pelajaran dimulai serta memberikan tugas membaca dari guru.

Menurutnya, rasa malas membaca sering muncul karena bosan, lelah, atau lebih tertarik bermain media sosial dan gim. Sebaliknya, seseorang akan lebih rajin membaca jika memiliki keinginan menambah pengetahuan dan memperoleh informasi baru.

“Postingan media sosial biasanya lebih singkat, mudah dipahami, dan membahas hal-hal yang sedang tren sehingga lebih menarik,” ujarnya.

Di tingkat menengah atas, siswa kelas X-2 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tarakan, Aurelia Alvini mengaku berusaha meluangkan waktu setiap hari untuk membaca buku, artikel, maupun berita yang bermanfaat.

Ia mengatakan rata-rata menghabiskan waktu membaca sekitar 30 hingga 60 menit per hari, terutama saat waktu luang atau sebelum tidur. Bacaan yang diminati antara lain novel fantasi, buku pengembangan diri, serta buku yang dapat menambah wawasan.

“Sekolah juga mendorong budaya membaca melalui berbagai program literasi sehingga siswa terbiasa membaca buku,” terangnya.

Meski terkadang merasa lelah setelah beraktivitas seharian atau kesulitan menemukan bacaan yang sesuai minat, ia tetap berupaya membiasakan diri membaca sedikit demi sedikit karena menyadari manfaatnya bagi pengetahuan dan wawasan.

Baca Juga :  Wacana Penerapan Bahasa Prancis, SD Utama 2 Tarakan Soroti Kesiapan Guru

Menurutnya, media sosial lebih diminati karena informasi yang disajikan singkat, cepat, dan mudah diakses. Namun, buku tetap memiliki keunggulan karena menyajikan informasi yang lebih lengkap, mendalam, dan terpercaya.

Sementara itu, siswi kelas X-2 MAN Tarakan, Aulia Pasah Ramdhani, mengaku biasanya membaca buku pada malam hari sebelum tidur selama 20 hingga 30 menit. Ia juga terkadang membaca saat jam istirahat sekolah.

“Kalau sedang tidak banyak tugas, saya bisa membaca 30 menit sampai satu jam per hari. Kalau bukunya sangat seru bisa sampai dua jam,” ujarnya.

Aulia menyukai buku pengembangan diri, sejarah, dan berbagai bacaan yang dapat menambah wawasan. Ia menyebut sekolah memiliki program belajar di perpustakaan yang mewajibkan siswa membaca buku.

Menurutnya, membaca dapat menjadi sarana mengurangi stres sekaligus memperluas pengetahuan. Namun, ia mengakui terkadang malas membaca ketika menghadapi buku yang tebal dengan bahasa yang berat.

“Postingan di media sosial itu pendek, langsung ke inti, topiknya juga selalu terbaru dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan buku membutuhkan fokus yang lebih lama,” ungkapnya.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan sejauh ini budaya membaca di kalangan pelajar Tarakan masih berjalan melalui dukungan program literasi sekolah. Namun, tantangan berupa dominasi media sosial yang menawarkan informasi cepat dan ringkas menjadi faktor yang memengaruhi kebiasaan membaca generasi muda. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *