Hujan Lebat Berkepanjangan, BPBD Tarakan Tangani Longsor dan Pohon Tumbang di Sejumlah Titik

benuanta.co.id, TARAKAN – Hujan lebat berdurasi panjang yang mengguyur Kota Tarakan memicu sejumlah bencana pada Selasa (7/7/2026) dini hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan menerima laporan dua kejadian tanah longsor di kawasan Ladang dan Sebengkok, serta satu pohon tumbang berukuran besar di Karang Balik.

Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep, mengatakan penanganan pohon tumbang di Karang Balik membutuhkan seluruh personel yang sedang bertugas lantaran ukuran batang pohon cukup besar dan berpotensi membahayakan warga.

“Untuk pohon tumbang itu hanya satu di Karang Balik, tetapi karena kayunya besar seluruh tim yang ada kami turunkan. Dari laporan ada tujuh personel yang menangani karena kondisinya berisiko bergeser maupun terguling,” ujarnya.

Di waktu yang hampir bersamaan, BPBD juga menerima laporan tanah longsor di kawasan Ladang. Tidak lama berselang, laporan serupa kembali masuk dari RT 30 Kelurahan Sebengkok.

Baca Juga :  4.300 Peserta Meriahkan Pawai Budaya Iraw Tengkayu 2026

Yonsep menjelaskan, tim BPBD langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan asesmen terhadap kedua lokasi tersebut guna mengetahui tingkat kerusakan sekaligus potensi longsor susulan. Menurutnya, longsor di kawasan Ladang berdampak terhadap dua rumah warga. Peristiwa tersebut dipicu erosi pada jalur aliran air setelah adanya aktivitas pengerukan di bagian atas lereng.

“Di Ladang sebenarnya itu jalur air. Ada yang meratakan atau mengeruk di bagian atas sehingga terjadi erosi dan akhirnya longsor yang berdampak terhadap dua rumah,” jelasnya.

Sementara itu, longsor di RT 30 Sebengkok hanya merusak pagar rumah warga. Meski demikian, lokasi tersebut tetap dinilai memiliki potensi longsor susulan sehingga memerlukan pemantauan.

Baca Juga :  Filosofi Perahu 'Padaw Tuju Dulung', Kendaraan Raja Tarakan Terbesar pada Zamannya 

“Kalau di Sebengkok tidak mengenai rumah, hanya pagar. Tetapi tetap berisiko terjadi longsor susulan sehingga tim sudah kami arahkan melakukan asesmen,” bebernya.

Yonsep menerangkan, pola cuaca di Tarakan saat ini mengalami anomali. Meski sebelumnya diperkirakan memasuki musim kering hingga September, hujan ringan justru turun dengan durasi yang lebih panjang.

“Sebenarnya prakiraan sampai September masih periode kekeringan. Tetapi sekarang ada anomali cuaca. Hujannya memang ringan, namun durasinya lebih lama sehingga meningkatkan risiko longsor,” ungkapnya.

Ia mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan lereng, agar tetap meningkatkan kewaspadaan karena longsor tidak selalu terjadi saat hujan turun. Dirinya menjelaskan, kondisi tanah Tarakan yang didominasi pasir menyebabkan air mudah masuk ke rongga-rongga tanah yang terbentuk saat musim kering. Kondisi itu dapat memicu longsor dua hingga tujuh hari setelah hujan berhenti.

Baca Juga :  Program JKN Makin Kuat, Cetak SDM Sehat untuk Indonesia Hebat 

“Longsor di Tarakan bukan hanya saat hujan. Dua atau tiga hari, bahkan sampai seminggu setelah hujan masih bisa terjadi longsor karena air yang tertampung di dalam rongga tanah,” jelasnya.

Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana. Warga diminta menjaga kestabilan lereng di sekitar rumah dengan menanam vegetasi.

“Kalau lahannya gundul wajib ditanami kembali. Yang cepat dan cukup baik untuk menahan tanah adalah bambu karena daya serap dan perakarannya kuat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *