benuanta.co.id, TARAKAN – Ribuan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, instansi, komunitas, hingga masyarakat umum memeriahkan Pawai Budaya Kota Tarakan 2026 yang digelar, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang menjadi rangkaian Festival Iraw Tengkayu ke-15 itu mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Melindungi dan Mengembangkan Warisan Iraw Tengkayu di Bumi Paguntaka Tarakan Hebat” sebagai simbol persatuan, pelestarian budaya, serta penguatan identitas daerah.
Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Tarakan sekaligus perwakilan panitia, Ajat Jatnika, S.T., M.T., menjelaskan pelaksanaan pawai budaya tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Pariwisata Kota Tarakan Tahun Anggaran 2026 yang bersumber dari APBD Kota Tarakan.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan membuka ruang interaksi budaya yang inklusif, mempererat persaudaraan dan toleransi, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi kearifan lokal, adat istiadat, dan budaya yang dimiliki Kota Tarakan.
“Tujuan kegiatan ini adalah membuka ruang interaksi antarbudaya yang inklusif, mempererat persaudaraan dan toleransi, serta meningkatkan kesadaran semua pihak terhadap potensi kearifan lokal, adat istiadat, dan budaya yang ada di Kota Tarakan,” ungkapnya.
Ia menerangkan, pawai budaya dilaksanakan pada Sabtu (4/7/2026) mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai dengan titik start di depan Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tarakan. Peserta dibagi dalam tiga kategori utama, yakni jalan kaki, sepeda hias, dan mobil hias yang diikuti oleh ribuan masyarakat dari berbagai unsur.
“Kegiatan dilaksanakan mulai pukul delapan pagi sampai selesai dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam berbagai kategori peserta,” terangnya.
Ajat memaparkan kategori jalan kaki menjadi peserta terbanyak dengan total 123 grup yang terdiri atas 39 grup SD sebanyak 1.134 peserta, 39 grup SMP sebanyak 1.213 peserta, 12 grup SMA/SMK sebanyak 387 peserta, serta 33 grup kategori umum dengan 888 peserta. Secara keseluruhan kategori ini diikuti 3.622 peserta.
“Kategori jalan kaki diikuti 123 grup dengan total 3.622 peserta,” bebernya.
Sementara itu, kategori sepeda hias diikuti 31 grup yang terdiri atas 11 grup SD dengan 51 peserta, enam grup SMP sebanyak 32 peserta, empat grup SMA/SMK sebanyak 20 peserta, serta 10 grup umum dengan 38 peserta sehingga total mencapai 141 peserta. Adapun kategori mobil hias diikuti 60 grup yang terdiri atas 17 grup SD dengan 186 peserta, sembilan grup SMP sebanyak 56 peserta, satu grup SMA/SMK dengan lima peserta, dan 33 grup umum dengan 374 peserta atau berjumlah 621 peserta.
“Untuk sepeda hias terdapat 31 grup dengan 141 peserta, sedangkan mobil hias diikuti 60 grup dengan total 621 peserta,” tukasnya.
Sementara itu, Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., mengatakan Pawai Budaya 2026 merupakan penyelenggaraan yang ke-15 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Festival Iraw Tengkayu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Festival Budaya kini dipisahkan pelaksanaannya dari Festival Iraw Tengkayu sesuai arahan Kementerian Pariwisata, sehingga festival budaya dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
“Karena ada arahan dari Kementerian Pariwisata, kegiatan Festival Budaya dipisahkan dari Festival Iraw Tengkayu dan insyaallah pelaksanaannya pada bulan Agustus,” jelasnya.
Menurutnya, pawai budaya yang digelar saat ini sejatinya merupakan prosesi mengarak Padaw Tuju Dulung yang akan dilarung pada puncak Festival Iraw Tengkayu di Pantai Amal keesokan harinya. Selain menjadi bagian dari tradisi budaya, kegiatan tersebut juga mencerminkan persatuan dan keberagaman masyarakat Kota Tarakan yang selama ini terjaga dengan baik.
“Kegiatan hari ini sebenarnya adalah perwujudan persatuan dan kesatuan masyarakat Tarakan dalam rangka mengarak Padaw Tujuh Dulang yang besok akan kita larung di Pantai Amal,” katanya.
Ia mengakui penyelenggaraan tahun ini dilaksanakan di tengah kebijakan efisiensi anggaran sehingga kemeriahan kegiatan, jumlah undangan, maupun nominal hadiah mengalami penyesuaian. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme masyarakat yang tetap memadati lokasi kegiatan dengan jumlah peserta mencapai ribuan orang.
“Walaupun kita laksanakan di tengah efisiensi dan hadiahnya agak berkurang, mudah-mudahan tidak mengurangi makna kegiatan ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Khairul menjelaskan Festival Iraw Tengkayu sejak 2019 diputuskan digelar setiap tahun, kecuali saat pandemi COVID-19. Konsistensi tersebut dilakukan karena festival ini telah masuk dalam daftar 100 Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga harus terus dilaksanakan agar tetap menjadi bagian dari kalender pariwisata nasional.
“Festival Iraw Tengkayu sudah beberapa tahun masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara. Karena itu kegiatan ini harus terus kita laksanakan setiap tahun,” tegasnya.
Ia berharap kualitas penyelenggaraan festival terus ditingkatkan agar mampu naik peringkat dalam Karisma Event Nusantara, bahkan menembus 45 besar hingga delapan besar nasional. Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah memperluas partisipasi peserta dari daerah lain maupun negara tetangga sehingga daya tarik festival semakin meningkat.
“Kalau bisa ke depan kita masuk minimal 45 besar, bahkan kalau memungkinkan masuk delapan besar Karisma Event Nusantara,” harapnya.
Pada kesempatan itu, Khairul juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, tokoh adat, tokoh agama, tokoh budaya, panitia, dan masyarakat yang telah mendukung suksesnya kegiatan. Ia mengetahui banyak peserta rela mencari dukungan secara mandiri agar dapat ikut memeriahkan pawai budaya tersebut.
“Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta dan semua pihak yang telah berusaha keras menyukseskan kegiatan ini,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







