Bendera 2.026 Meter Akan Dikibarkan di Tanjung Selor

Tarakan100 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter akan dikirab di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Sabtu (29/8/2026) mendatang. Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian semangat nasionalisme setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan melibatkan Organisasi Orang Indonesia (OI) bersama KNPI Provinsi Kalimantan Utara serta sejumlah organisasi di Tanjung Selor.

Ketua Badan Pengurus Kota Organisasi Orang Indonesia (OI) Tarakan, Che Ageng, mengatakan kirab bendera tersebut dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WITA dengan titik start di depan Kantor Gubernur Kalimantan Utara dan finis di kawasan Cinta Damai atau Tepian Unggulan di Tanjung Selor.

“Tanggal 29 Agustus nanti, jam 8 pagi. Kita mengambil titik start di depan Kantor Gubernur, finish kita di Cinta Damai,” ungkapnya, Senin (17/8/2026)

Bendera yang akan dikirab memiliki panjang 2.026 meter dan lebar 2,20 meter. Ukuran tersebut disesuaikan dengan tahun pelaksanaan kegiatan, sementara bendera ini berbeda dengan bendera Merah Putih berukuran 17 meter x 8 meter yang sebelumnya digunakan dalam pembentangan di Tarakan.

“Kita punya dua bendera yang ukurannya di luar batas wajar. Pertama, 17-8, yang kemudian yang kita kirap setiap tahunnya keliling Kaltara. Untuk tahun ini, kita samakan dengan tahun ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Job Fair Buka Akses Kerja, BPS Tarakan Dorong Pencari Kerja Tingkatkan Kompetensi

Bendera kirab tersebut memiliki sejarah panjang. Pembuatannya dimulai sejak 2014 dengan ukuran awal hanya sembilan meter dan lebar 2,20 meter. Setiap tahun panjangnya terus ditambah, sedangkan lebarnya dipertahankan mengikuti lebar kain hingga pada 2026 mencapai 2.026 meter.

“Dari sebelumnya panjang 9 meter, lebar 2,20 meter. Jadi penambahan panjang, setiap tahun kita tambah panjang. Lebarnya tetap, mengikuti lebar kain,” bebernya.

Dengan ukuran yang mencapai lebih dari dua kilometer, pengelolaan bendera tersebut membutuhkan keterlibatan banyak orang saat dikirab. Barisan pembawa bendera akan disusun secara berlapis, mulai dari Paskibraka, unsur TNI-Polri, pelajar tingkat SMA hingga organisasi dan komunitas masyarakat.

“Di posisi depan itu barisan Paskibraka yang memegang, terus setelah barisan Paskibraka itu unsur TNI-Polri, setelah itu unsur-unsur pelajar tingkat SMA, baru organisasi komunitas-komunitas,” ujarnya.

Jarak antarbarisan pembawa bendera juga diatur sekitar dua meter. Peserta diwajibkan menjaga kebersihan tangan agar tidak meninggalkan noda pada kain Merah Putih yang akan dibentangkan sepanjang perjalanan.

Baca Juga :  Kualitas Udara Pulau Tarakan Belum Dapat Tergambar Menyeluruh

“Tangan harus steril, tidak boleh pegang makanan, apalagi ngerokok,” tegasnya.

Perawatan bendera juga menjadi perhatian karena kain sepanjang 2.026 meter tersebut harus tetap dalam kondisi baik setiap kali digunakan. Ketika bendera dibentangkan, bagian yang terlihat kotor akan langsung dibersihkan agar noda tidak semakin sulit dihilangkan setelah bendera kembali dilipat.

“Ketika bendera terbentang itu, teman-teman melihat kalau misalkan ada yang kotor itu kita langsung sikat,” katanya.

Che Ageng mengatakan bendera tersebut tidak hanya akan digunakan dalam satu kegiatan. Pihak OI memiliki komitmen untuk terus menambah panjang bendera setiap kali digunakan dalam kegiatan kirab. Penambahan minimal dilakukan satu rol kain yang memiliki panjang 27 meter.

“Komitmen kami, setiap dia keluar dari lipatannya, atau dia setiap berkegiatan, wajib ditambah. Minimal ditambah 27 meter,” katanya.

Kirab bendera berukuran panjang tersebut sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah wilayah Kalimantan Utara. Tarakan menjadi salah satu daerah yang beberapa kali menjadi lokasi kirab, sementara kegiatan juga pernah dilaksanakan di Tanjung Selor dan Nunukan.

“2018 kita di Tarakan, 2019 di Tarakan, 2020 di Tanjung, kemudian di Tarakan kembali. Jadi untuk Tarakan sudah tiga kali,” terangnya.

Baca Juga :  Grebek Lokasi Judi Sabung Ayam di Pantai Amal, Polisi Hanya Temukan Gelanggang Kosong Melompong

Pada 2023, kegiatan kirab dilaksanakan di Nunukan dengan panjang bendera mencapai 1.000 meter. Tahun ini, giliran Tanjung Selor kembali menjadi lokasi pelaksanaan dengan ukuran yang disesuaikan dengan tahun 2026.

“Di 2023 itu di Nunukan dengan panjang bendera itu 1.000 meter. Kemudian untuk tahun ini kita ke Tanjung Selor lagi,” katanya.

Menurut Che Ageng, pelaksanaan kirab di Tanjung Selor membutuhkan persiapan sejak jauh hari, termasuk pengaturan waktu bagi anggota yang ikut serta. Jarak yang relatif dekat dari Tarakan membuat Tanjung Selor lebih memungkinkan dibandingkan lokasi yang lebih jauh.

“Untuk Tanjung ini kan jauh-jauh hari sudah mengurus cuti teman-teman,” imbuhnya.

Untuk kirab di Tanjung Selor pada 29 Agustus mendatang, Che Ageng mengatakan kegiatan tersebut merupakan kolaborasi OI dengan KNPI Provinsi Kalimantan Utara dan organisasi yang berada di Tanjung Selor.

“Teman-teman OI bekerja sama dengan KNPI Provinsi Kalimantan Utara dan organisasi yang ada di Kabupaten Bulungan, khususnya di Tanjung Selor,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *