BPBD Catat Empat Longsor Terjadi di Tarakan Selama Juli 2026

benuanta.co.id, TARAKAN –Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat sedikitnya empat kejadian tanah longsor di wilayah Tarakan selama Juli 2026. Seluruh kejadian terjadi di kawasan permukiman, dengan satu di antaranya berdampak pada rumah warga.

Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep, mengungkapkan dua laporan longsor terbaru diterima pada Senin (6/7), yakni di kawasan Ladang dan RT 30 Kelurahan Sebengkok. Selain dua lokasi tersebut, BPBD sebelumnya juga menangani longsor di Mamburungan dan Karang Anyar.

“Kalau data bulan Juli, longsor sudah ada empat kejadian, termasuk di Mamburungan, Karang Anyar, Ladang, dan Sebengkok. Semuanya terjadi di kawasan permukiman,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Dari empat kejadian tersebut, longsor di kawasan Ladang menjadi yang paling berdampak karena mengenai dua rumah warga. Yonsep menjelaskan, penyebab longsor di lokasi tersebut bukan semata-mata karena hujan, tetapi juga dipicu aktivitas pengerukan di bagian atas jalur aliran air sehingga mempercepat terjadinya erosi.

Baca Juga :  Ribuan Pengunjung Padati Balai Adat Tidung Tarakan pada Momen Libur Sekolah

“Di Ladang sebenarnya itu jalur air. Ada aktivitas pengerukan di atasnya sehingga mengakibatkan erosi dan akhirnya longsor yang berdampak terhadap dua rumah,” terangnya.

Sementara itu, longsor di RT 30 Sebengkok hanya merusak pagar rumah warga. Meski demikian, BPBD tetap melakukan asesmen karena terdapat potensi longsor susulan.

Ia menjelaskan, penanganan longsor dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Jika material longsor merusak bangunan utama rumah, BPBD akan melakukan penanganan langsung. Namun apabila dampaknya masih ringan dan dapat ditangani pemilik rumah, BPBD memberikan bantuan berupa karung sebagai upaya penanganan sementara.

Baca Juga :  Samsat Tarakan Imbau Kendaraan Berpelat Luar Segera Mutasi Jika Menetap Lebih dari Tiga Bulan

“Kalau longsor sampai mengenai bangunan utama tentu kami tangani. Tetapi kalau hanya berdampak ringan dan masih bisa dikerjakan pemilik rumah, biasanya kami membantu dengan karung untuk penanganan sementara,” jelasnya.

Selain longsor, BPBD juga mencatat dua kejadian pohon tumbang sepanjang Juli 2026. Salah satunya terjadi di Karang Balik dengan ukuran pohon cukup besar sehingga membutuhkan penanganan tujuh personel BPBD.

Yonsep menilai masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena karakteristik tanah di Tarakan membuat longsor dapat terjadi beberapa hari setelah hujan berhenti.

Menurutnya, musim kering yang berlangsung sebelumnya menyebabkan terbentuknya rongga-rongga di dalam tanah. Ketika hujan turun, air akan mengisi rongga tersebut dan memicu pergerakan tanah beberapa hari kemudian.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Doxing oleh Direktur PDAM Tarakan Naik Tahap Sidik

“Itu yang harus dicermati masyarakat. Kadang cuaca sudah panas, tetapi tetap ada laporan longsor karena air masih bekerja di dalam tanah. Terutama bagi wilayah yang sebelumnya pernah mengalami longsor, sangat mungkin terjadi longsor susulan,” ungkapnya.

BPBD pun mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan lereng tidak menunggu penanganan pemerintah semata. Warga diharapkan melakukan mitigasi secara mandiri, termasuk menanam kembali lahan yang gundul dengan vegetasi yang mampu memperkuat struktur tanah, seperti bambu. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *