Nunukan, Miniatur Indonesia di Perbatasan: Harmoni Keberagaman Kekuatan Persatuan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Keberagaman suku dan agama di Kabupaten Nunukan bukanlah pemicu perpecahan. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi kekuatan utama yang mempererat persatuan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Nunukan, Hasan Basri, menyebut kehidupan sosial di Nunukan mencerminkan miniatur Indonesia yang hidup dalam harmoni, meski diwarnai dinamika politik yang cukup tinggi.

“Sebagai daerah perbatasan, dinamika di Nunukan memang tinggi. Tapi di sinilah kita melihat miniatur Indonesia, semua suku dan agama hidup berdampingan,” ujarnya, Rabu (15/04/2026).

Keberagaman itu, lanjutnya, tidak hanya tampak dalam struktur sosial, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang saling berbaur tanpa sekat. Mulai dari budaya hingga kuliner, semuanya berpadu menjadi warna khas Nunukan.

“Di sini kita bisa menikmati bakso khas Jawa, pempek Palembang, hingga kapurung dari Sulawesi. Itu bukti nyata keberagaman yang menyatu,” katanya.

Hasan Basri menilai, masyarakat Nunukan kini semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, baik suku, agama, maupun pilihan politik. Dalam demokrasi, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi kekayaan yang memperkuat persatuan.

“Perbedaan itu tidak bisa dihindari, tapi justru menjadi kekuatan yang menyatukan kita,” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik potensi gesekan tetap ada di tengah masyarakat yang heterogen. Untuk itu, pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai mekanisme penyelesaian melalui forum-forum kebangsaan dan keagamaan.

“Kalau ada persoalan, kita punya Forum Pembauran Kebangsaan dan FKUB untuk memediasi. Alhamdulillah, sejauh ini bisa diselesaikan dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, peran tokoh adat dan tokoh agama sangat vital dalam menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Pemerintah, kata dia, lebih berperan sebagai fasilitator.

“Yang paling berperan menjaga harmoni adalah tokoh adat dan tokoh agama karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah tetap mewaspadai sejumlah isu strategis, seperti potensi penyebaran paham radikal dan peredaran narkotika. Hal ini tidak lepas dari posisi Nunukan sebagai wilayah perbatasan sekaligus daerah transit.

“Isu radikalisme dan narkotika masih menjadi perhatian serius karena Nunukan adalah daerah transit,” katanya.

Mengakhiri pernyataannya, Hasan Basri mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan di tengah perbedaan yang ada.

“Apapun pandangan politik kita, jangan sampai merusak persatuan. Justru perbedaan suku, agama, dan pilihan politik harus menjadi kekuatan yang menyatukan kita di Nunukan,” tutupnya. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *