Nasib Loper Koran di Era Digitalisasi 

benuanta.co.id, NUNUKAN – Perkembangan teknologi turut mengubah kebiasaan masyarakat, di antaranya seperti soal keberadaan koran. Koran mengalami disrupsi bahkan ada yang harus “gulung tikar” karena pailit. Masyarakat cenderung beralih ke media online dan sosial media, walaupun media koran masih ada yang survive hingga saat ini.

Imbasnya pun terasa bagi para loper koran atau penjaja koran. Nasrul,salah satu penjaja koran di sekitar Nunukan, Kalimantan Utara, merasakan dampak tersebut. Nasrul menggeluti profesi sebagai penjaja koran selama 10 tahun sejak 2014, ia mengaku makin tersisih seiring dengan kemajuan teknologi informasi.

Baca Juga :  Polisi Ciduk 2 Karyawan PT KHL II yang Diduga Curi Ban Dump Truck Perusahaan

“Dulu saya berjualan koran laku keras, beda dengan sekarang penjualan ambruk,” ujarnya.

Nasrul tiap pagi setelah bangun dia bersiap ke Pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan untuk mengambil koran. Ia tak segan untuk berkeliling dari pagi hingga siang hari untuk menjajakan koran.

Nasrul mengakui peminat koran tidak sebanyak dulu, walaupun berkeliling seharian, Nasrul hanya mampu menjual hingga 3 eksemplar. “Pelanggannya adalah para supir taksi dan tukang ojek. Sisa korannya diantar menggunakan motor ke tempat pelanggan koran mulai dari rumahan, sekolah, kantoran,” jelasnya.

Baca Juga :  Evaluasi Hasil MTQ Kaltara, Penguatan Pembinaan Quran di Nunukan

Artinya pembaca koran masih ada di kalangan pekerja kantoran. Walaupun tergerus zaman tapi peminat setianya akan terus ada. Nasrul mengakali situasi ini dengan menjadi loper koran beberapa perusahaan media cetak untuk memenuhi kebutuhan hidup.(rm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *