benuanta.co.id, NUNUKAN – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang diberlakukan oleh PT Pertamina (Persero) mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Nunukan.
Warga mengaku pengeluaran harian meningkat, terutama bagi yang bergantung pada kendaraan untuk aktivitas kerja.
Salah seorang warga Nunukan, Rahmat (34), mengungkapkan kenaikan harga Pertamax cukup memberatkan. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai ojek mengaku harus mengatur ulang pengeluarannya.
“Biasanya isi Rp50 ribu bisa dipakai cukup lama, sekarang terasa lebih cepat habis. Mau tidak mau, penghasilan juga harus dibagi lebih ketat,” ujarnya saat ditemui, Ahad (19/4/2026).
Hal senada disampaikan Siti Aminah (41), pelaku usaha kecil di Nunukan. Ia mengaku biaya distribusi barang dagangannya ikut naik karena ongkos transportasi meningkat.
“Kalau BBM naik, otomatis ongkir juga naik. Kami yang jualan kecil-kecilan ini jadi ikut terdampak, kadang harus menaikkan harga barang sedikit,” katanya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nunukan, R. Dior Frames, mengatakan pihaknya terus memantau dampak kenaikan BBM terhadap harga kebutuhan pokok.
“Kami masih melakukan pemantauan di lapangan. Sampai saat ini memang ada potensi kenaikan biaya distribusi, tapi kami berupaya agar tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, stabilnya harga BBM subsidi seperti Pertalite masih menjadi penopang daya beli masyarakat di tengah kenaikan BBM nonsubsidi.
“Kami harap masyarakat tetap bijak dalam konsumsi BBM, dan pemerintah pusat tetap menjaga ketersediaan BBM subsidi,” tambahnya.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini diperkirakan akan terus berdampak pada sektor transportasi dan logistik di wilayah perbatasan seperti Nunukan, yang selama ini sangat bergantung pada distribusi barang dari luar daerah. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Endah Agustina







