benuanta.co.id, TARAKAN – Kondisi Pantai Ratu Intan di Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, memunculkan ironi tersendiri. Di tengah statusnya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang dibangun dengan berbagai fasilitas pendukung, kawasan tersebut tampak sepi pengunjung. Sejumlah fasilitas yang tersedia juga terlihat mengalami kerusakan dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Hasil penelusuran benuanta.co.id menunjukkan jumlah pengunjung yang datang ke kawasan wisata tersebut sangat minim. Selama pemantauan di lokasi, hanya terlihat dua orang pengunjung yang menikmati suasana pantai meski bertepatan dengan hari libur tanggal merah yang biasanya menjadi momen meningkatnya kunjungan wisata.
Aktivitas yang terlihat di kawasan itu justru lebih banyak berasal dari petugas jaga, petugas kebersihan, serta warga yang lalu lalang untuk mengurus rumput laut. Keberadaan mereka lebih mendominasi dibandingkan wisatawan yang datang untuk berlibur.
Di bagian belakang kawasan wisata, terdapat akses yang terbuka sehingga memungkinkan orang keluar masuk area dengan leluasa. Sejumlah anak-anak terlihat memanfaatkan celah tersebut untuk masuk ke kawasan wisata tanpa melalui pintu utama. Kondisi ini juga berpotensi menyebabkan kebocoran pendapatan karena pengunjung dapat keluar masuk tanpa harus melewati pintu resmi maupun membayar karcis masuk.
Kondisi sejumlah bangunan di dalam kawasan juga memprihatinkan. Beberapa bagian plafon tampak mengalami kerusakan, sementara sejumlah pintu bangunan terlihat rusak dan tidak lagi berfungsi dengan baik. Bahkan, beberapa bangunan tampak terbuka karena penghalang atau pembatasnya mengalami kerusakan sehingga mudah dimasuki siapa saja.
Persoalan kebersihan juga masih menjadi pekerjaan rumah. Sejumlah bangunan dan fasilitas toilet terlihat kurang terawat dengan adanya kotoran yang tampak belum dibersihkan. Kondisi tersebut membuat kenyamanan pengunjung berpotensi terganggu dan menimbulkan kesan kurang terawat terhadap kawasan wisata.
Selain itu, beberapa bangunan menjadi sasaran aksi vandalisme. Coretan-coretan terlihat pada sejumlah dinding bangunan yang berada di kawasan wisata. Tidak hanya itu, terdapat pula bangunan yang mengalami kerusakan pada bagian kaca yang terlihat pecah.
Area sekitar objek wisata juga tampak kurang terawat. Ilalang yang tumbuh tinggi dan semak-semak yang rimbun terlihat di sejumlah titik kawasan. Kondisi tersebut membuat beberapa bagian area wisata tampak kumuh dan tidak terkelola secara maksimal.

Sejumlah fasilitas yang sebelumnya disiapkan untuk menunjang aktivitas wisata juga belum dapat dimanfaatkan. Kolam renang yang tersedia terlihat tidak berisi air, sedangkan fasilitas jembatan kaca hingga kini masih dalam kondisi tertutup dan belum dapat digunakan oleh pengunjung.
Secara keseluruhan, kondisi Pantai Ratu Intan memperlihatkan ketimpangan antara besarnya fasilitas yang telah dibangun dengan pemanfaatan dan pemeliharaan yang ada saat ini. Di tengah minimnya jumlah pengunjung dan belum optimalnya pengelolaan kawasan wisata, berbagai fasilitas justru tampak mengalami kerusakan serta memerlukan perhatian serius agar aset yang telah dibangun tidak semakin terbengkalai.
Kondisi akses belakang yang terbuka juga mendapat perhatian warga sekitar. Salah seorang warga, Hamdi, mengaku kerap melihat orang keluar-masuk melalui bagian belakang kawasan wisata karena pagarnya (menggunakan seng) kondisinya terbuka.
Menurut Hamdi, kondisi tersebut bukan hal baru karena akses di bagian belakang memang memungkinkan orang masuk tanpa melalui pintu utama. “Memang sering ada yang masuk dari belakang karena pagarnya terbuka,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti tingkat kunjungan wisatawan ke Pantai Ratu Intan. Sebab, dirinya hanya sesekali melihat aktivitas di kawasan tersebut tanpa memantau jumlah pengunjung yang datang setiap hari. “Kalau ramai atau tidak pengunjungnya saya kurang tahu,” katanya.
Hamdi juga mengaku tidak mengetahui aktivitas yang berlangsung di kawasan wisata itu pada malam hari. Yang ia ketahui, operasional Pantai Ratu Intan dibuka pada pagi hari dan berakhir pada malam hari sesuai jadwal yang berlaku. “Setahu saya bukanya sekitar jam 8 pagi sudah ada petugas dan tutup jam malam gitu,” tukasnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil wawancara benuanta.co.id dengan Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Disbudporapar Kota Tarakan, Muhammad Anas Hidayat, S.STP., pada 16 Maret 2026 lalu, pengelolaan Pantai Ratu Intan saat ini tengah diproses untuk diserahkan kepada pihak ketiga.
“Saat ini prosesnya ke pihak ketiga,” terangnya.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar pengelolaan kawasan wisata dapat berjalan lebih maksimal dan profesional di masa mendatang. Nantinya, pihak ketiga akan mengelola kawasan tersebut secara penuh.
“Jadi nanti ke depan full mereka yang mengelola supaya lebih maksimal,” katanya.
Terkait fasilitas jembatan kaca yang hingga kini belum dapat digunakan pengunjung, Anas menjelaskan bahwa pembangunan fisiknya sebenarnya telah selesai. Namun, fasilitas tersebut masih menunggu proses peresmian sebelum dibuka untuk umum.
“Kalau jembatan kaca itu sudah jadi, tapi memang belum diresmikan,” jelasnya.
Anas juga menerangkan pembangunan Pantai Ratu Intan dilakukan secara bertahap hingga tahap ketiga. Saat ini, pengembangan kawasan baru menjangkau area sebelum kawasan Iraw. “Pembangunannya sampai tahap tiga dan saat ini masih sampai sebelum area Iraw,” bebernya.
Ia menambahkan, kawasan yang direncanakan untuk dikembangkan masih cukup luas dan menjadi bagian dari rencana pengembangan jangka panjang pemerintah. Area tersebut membentang mengikuti garis pantai yang ada di kawasan wisata. “Kawasan kita semua 40 meter dari bibir pantai,” tuturnya.
Mengenai rencana jangka panjang, pemerintah menargetkan pengembangan kawasan wisata tersebut dapat terus berlanjut hingga mencakup seluruh area yang telah direncanakan. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai waktu penyelesaiannya. “Rencananya ke depan sampai full Amal Lama, cuma tidak tahu kapan,” katanya.
Di sisi promosi, Disbudporapar Kota Tarakan mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi destinasi wisata. “Upaya promosi sudah kami lakukan melalui media sosial,” tuturnya.
Selain promosi, pemerintah juga membuka kesempatan bagi komunitas maupun organisasi yang ingin mengadakan kegiatan di kawasan Pantai Ratu Intan. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan kunjungan ke lokasi wisata tersebut. “Kami terbuka untuk komunitas atau organisasi yang mau membuat acara di situ,” tambahnya.
Untuk pemanfaatan bangunan atau tenant yang tersedia di kawasan wisata, pemerintah telah menetapkan tarif sewa bagi pihak yang ingin menggunakannya sebagai tempat usaha maupun kegiatan lainnya. Tarif yang diberlakukan bervariasi menyesuaikan ukuran dan lokasi bangunan yang tersedia.
“Biaya sewanya sekitar Rp1,2 juta sampai Rp1,6 juta. Kalau terkait pengunjung, intinya ada saja setiap hari, apalagi saat akhir pekan adalah peningkatan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








