Guru di Tarakan Pertahankan Minat Baca Siswa lewat Karya Tulis

benuanta.co.id, TARAKAN – Upaya meningkatkan minat baca siswa terus dilakukan satuan pendidikan di Tarakan di tengah tantangan perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin masif. Selain melalui program literasi di sekolah, sejumlah pendidik juga memilih memberikan teladan melalui karya tulis.

Salah satu penulis buku sekaligus Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tarakan, Iis Aisah Ahadyah mengatakan, salah satu cara yang dilakukannya untuk menumbuhkan budaya literasi adalah dengan menerbitkan buku berjudul Character Building yang di terbitkan pada 2020 lalu. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan yang berkaitan dengan pendidikan karakter.

Menurutnya, karya tulis tersebut lahir dari keinginan agar siswa tetap memiliki kedekatan dengan buku meski saat ini lebih akrab dengan telepon genggam dan media digital.

“Karena kita ingin anak-anak kita terutama di madrasah itu cinta dengan buku. Bagaimana berupaya supaya siswa-siswa kita bisa membaca. Paling tidak membaca yang punya gurunya dulu,” ujarnya kepada benuanta.co.id.

Ia menjelaskan, budaya menulis juga terus didorong di lingkungan tempat ia mengajar. Sejumlah guru mulai menghasilkan karya sesuai bidang masing-masing, baik secara mandiri maupun melalui komunitas penulis.

Baca Juga :  Jalan Amblas Menuju Pantai Ratu Intan Makin Mengkhawatirkan, Perbaikan Tunggu Ketersediaan Anggaran

“Jadi kita mencoba kepada guru-guru untuk membuat satu karya. Sudah ada beberapa guru yang melaksanakan. Misalnya guru Bahasa Arab yang cukup rajin menulis,” terangnya.

Selain melalui karya tulis, MAN Tarakan menerapkan program wajib kunjung perpustakaan bagi siswa. Setiap kelas memiliki jadwal bergiliran untuk melaksanakan pembelajaran di perpustakaan agar siswa terbiasa membaca buku.

“Setiap guru dan mata pelajaran ada jadwalnya ke perpustakaan. Jadi anak-anak masuk ke perpustakaan dan membaca,” ungkapnya.

Pihak sekolah juga membentuk duta baca atau duta literasi sebagai salah satu strategi meningkatkan ketertarikan siswa terhadap kegiatan membaca. Kendati demikian, ia mengakui tantangan literasi saat ini semakin besar karena anak-anak cenderung memilih mencari informasi melalui internet dan gawai dibandingkan membaca buku cetak.

“Memang sekarang anak-anak lebih suka membaca melalui Google atau HP. Karena itu kita harus punya cara supaya mereka tetap tertarik terhadap buku,” tuturnya.

Baca Juga :  Di Tengah Era Digitalisasi, Minat Baca Buku Pelajar di Tarakan Masih Terjaga

Sementara itu, salah satu Guru SD Patra Dharma Tarakan, Dea Suci Nurjenah, menilai rendahnya minat baca yang kerap menjadi sorotan berbagai lembaga internasional tidak sepenuhnya menunjukkan anak-anak tidak suka membaca. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah pergeseran media baca dari buku konvensional ke platform digital.

“Memang ada kecenderungan minat baca konvensional atau buku cetak menurun. Namun saya melihatnya bukan sepenuhnya karena siswa benci membaca, melainkan media dan jenis bacaannya yang telah bergeser,” ujarnya.

Dea menjelaskan, tantangan terbesar guru saat ini adalah mengarahkan rasa ingin tahu siswa agar mau mengakses bacaan yang berkualitas, bukan hanya mengonsumsi konten hiburan di media sosial.

Guna membangun kebiasaan tersebut, SD Patra Dharma menerapkan program literasi selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Siswa diberikan kebebasan memilih bahan bacaan yang mereka sukai sebagai bagian dari pembiasaan membaca.

Baca Juga :  Hujan Deras dan Angin Kencang, BPBD Tarakan Tangani Tiga Laporan Bencana

“Kita menerapkan 15 menit membaca sebelum pembelajaran. Tujuannya agar membaca menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban,” bebernya.

Selain itu, guru juga sering memberikan tugas yang mengharuskan siswa mencari referensi dan membaca materi terlebih dahulu sebelum pembelajaran berlangsung. Di sisi lain, dirinya mengakui penggunaan gawai memiliki manfaat dalam mendukung proses belajar karena akses informasi menjadi lebih cepat dan mudah. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol juga berpotensi mengganggu fokus siswa.

“Gadget menawarkan fleksibilitas dan visual yang menarik. Tetapi siswa bisa terdistraksi oleh berbagai konten yang belum tentu sesuai dengan usia mereka,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai sekaligus membangun budaya membaca di rumah.

“Orang tua harus menjadi contoh nyata. Anak-anak tidak akan gemar membaca jika di rumah orang tuanya juga selalu bermain gadget,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *