benuanta.co.id, TARAKAN – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tarakan menggelar nonton bersama (Nobar) sekaligus diskusi film dokumenter Pesta Babi di Cafe Relate, Jalan Mulawarman, Tarakan, Rabu (20/5/2025) malam. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dan masyarakat umum sebagai ruang diskusi mengenai isu kemanusiaan, agraria, hingga keadilan sosial di Papua.
Ketua HMI Cabang Tarakan, Muhammad Fadhil Qobus, mengungkapkan, kegiatan tersebut sengaja digelar bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai ruang belajar bersama untuk membangun cara berpikir kritis di kalangan anak muda. Menurutnya, film dokumenter yang diputar mengandung banyak persoalan sosial yang perlu dipahami secara mendalam.
“Tujuan utama kami adalah untuk belajar. Lewat nobar dan diskusi film kontroversial Pesta Babi, kita akan dipaksa bernalar kritis dan berdialektika,” ungkapnya, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, film tersebut menampilkan berbagai realitas sosial dan sejarah yang terjadi di Tanah Papua, termasuk persoalan hak masyarakat adat yang dinilai terus menghadapi tantangan perkembangan zaman. Karena itu, HMI ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai medium edukasi bagi mahasiswa maupun masyarakat umum di Kota Tarakan.
“Film ini mempertontonkan realitas sosial, sejarah, hingga hak masyarakat adat di Tanah Papua yang terus diuji oleh zaman,” katanya.
Fadhil menegaskan, melalui kegiatan tersebut pihaknya ingin mendorong masyarakat agar tidak menutup mata terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di wilayah timur Indonesia. Menurutnya, isu agraria dan keadilan sosial merupakan persoalan bersama yang perlu dipahami generasi muda.
“HMI ingin mengajak masyarakat Kota Tarakan, pemuda, juga mahasiswa untuk tidak abai terhadap isu-isu kemanusiaan, agraria, dan keadilan sosial,” tegasnya.
Ia menyebut, kegiatan nobar sengaja dibuat terbuka untuk umum agar ruang diskusi dapat diikuti berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga aparat pemerintah dan keamanan dipersilakan hadir untuk berdiskusi bersama tanpa sekat.
“Siapa pun boleh hadir, baik mahasiswa, masyarakat, hingga pihak pemerintah dan aparat keamanan sekalipun boleh gabung,” ucapnya.
Menurut Fadhil, inti utama kegiatan tersebut justru berada pada sesi diskusi setelah pemutaran film selesai. Sebab, peserta diajak membedah berbagai persoalan yang muncul di dalam film secara lebih mendalam dan kritis.
“Esensi utama dari agenda ini justru terletak pada sesi diskusinya, jadi bukan cuma nonton bareng lalu pulang,” jelasnya.
Dalam forum diskusi itu, sejumlah isu turut menjadi pembahasan peserta, di antaranya terkait ekspansi industri, dampak terhadap ekosistem, hingga persoalan tanah adat masyarakat asli Papua. Selain itu, dinamika Proyek Strategis Nasional (PSN) juga ikut menjadi topik yang memantik pandangan peserta dari berbagai sudut.
“Dinamika mengenai Proyek Strategis Nasional akan menjadi salah satu isu yang menarik untuk didiskusikan,” katanya.
Fadhil menilai, ruang-ruang diskusi seperti itu penting dihadirkan di tengah mahasiswa agar budaya berpikir kritis dan berdialektika tetap hidup. Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
“Kegiatan seperti ini penting supaya mahasiswa terbiasa membaca persoalan sosial secara lebih kritis,” ujarnya.
Pasca kegiatan tersebut, HMI Cabang Tarakan berharap muncul kesadaran kolektif di tengah masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan dan keadilan sosial. Fadhil mengatakan, diskusi yang lahir dari kegiatan sederhana seperti nobar diharapkan mampu membuka perspektif baru bagi peserta.
“Harapan kami, pasca-kegiatan ini ada kesadaran kolektif yang terbangun di mahasiswa dan masyarakat Kota Tarakan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







