Siapkan 1.500 Ekor Ternak, Pemotongan Kurban di Tarakan Diprediksi Meningkat 20 Persen

benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan memprediksi jumlah pemotongan hewan kurban pada Iduladha tahun ini meningkat sekitar 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Tarakan, Paulus mengatakan, berdasarkan data sementara, stok sapi siap potong di Tarakan saat ini berkisar 1.350 hingga 1.400 ekor.

“Data terakhir sekitar 1.350 sampai 1.400 ekor. Itu khusus sapi siap potong, gabungan dari peternak lokal dan sapi yang baru masuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah tersebut belum termasuk populasi sapi secara keseluruhan di Tarakan yang diperkirakan mencapai lebih dari 4 ribu ekor jika dihitung bersama anakan dan ternak lainnya.

Paulus membeberkan pada tahun sebelumnya pemotongannya sekitar 1.125 ekor. Tahun ini perkirakan naik 20 persen, kurang lebih sekitar 1.300 ekor.

Oleh karena itu, DKPP Tarakan meminta peternak dan koperasi untuk menyiapkan stok cadangan hingga 1.500 ekor guna mengantisipasi lonjakan permintaan hewan kurban.

“Kami sudah sampaikan ke peternak dan Koperasi SMS supaya stok disiapkan sampai 1.500 ekor. Siapa tahu kemampuan masyarakat meningkat dan kebutuhan bertambah,” jelasnya.

Dirinya menyebut, sebagian besar sapi kurban yang masuk ke Tarakan berasal dari Gorontalo. Namun, dalam beberapa pekan terakhir juga terdapat pengiriman ternak dari Parepare dan Barru, Sulawesi Selatan.

“Terakhir yang masuk itu dari Gorontalo sebanyak 153 ekor lewat kapal Camara. Ada juga dari Parepare dan Barru,” ungkapnya.

Seluruh lalu lintas ternak tersebut dipantau melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS).

“Di iSIKHNAS kami bisa melihat data lalu lintas ternak yang masuk ke Tarakan,” ujar Paulus.
Kendati demikian, DKPP berharap tidak ada lagi pengiriman sapi dalam waktu dekat karena keterbatasan waktu pemeriksaan menjelang Iduladha.

“Kalau ada pengajuan masuk mulai sekarang dan datang minggu depan itu sudah mepet. Kami khawatir waktunya tidak cukup untuk pemeriksaan,” tuturnya.

Sementara itu, laporan resmi jumlah hewan kurban dari instansi, organisasi maupun pengurus masjid, termasuk dari lembaga besar seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Menurut Paulus, laporan biasanya baru masuk sekitar H-5 hingga H-3 sebelum pelaksanaan kurban.

“Kalau mereka belum melapor, kami yang inisiatif turun langsung ke masjid-masjid besar untuk pendataan. Karena kami perlu memetakan penempatan personel pengawasan,” jelasnya.

Sejumlah lokasi yang dipastikan menjadi fokus pengawasan di antaranya Masjid Al-Ma’arif, kawasan Perumnas, Jembatan Bongkok, hingga lokasi pemotongan milik organisasi keagamaan Muhammadiyah dan LDII.

“Setiap kelurahan sudah ada timnya, jadi nanti petugas akan disebar sesuai titik pemotongan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *