benuanta.co.id, TARAKAN – Isu flu burung yang beredar melalui media sosial berdampak langsung terhadap aktivitas jual beli ayam di Pasar Tenguyun, Kota Tarakan. Sejumlah pedagang mengaku omzet menurun drastis karena masyarakat menjadi ragu berbelanja, meski pemerintah telah memberikan klarifikasi bahwa tidak ada larangan membeli ayam dan belum ditemukan kasus flu burung pada manusia di Tarakan.
Salah seorang pedagang ayam di Pasar Tenguyun, Yusran, mengatakan kabar yang beredar sangat memengaruhi minat pembeli. Menurutnya, sejak pagi pasar terlihat lebih sepi dibanding hari biasanya karena pengunjung takut dan lebih berhati-hati.
“Informasi yang tidak jelas itu sangat berpengaruh. Pembeli yang masuk pasar jadi takut dan lebih hati-hati,” katanya, Kamis (23/4/2026).
Ia mengaku pertama kali mengetahui isu tersebut dari orang yang memberi kabar kepadanya. Setelah itu, Yusran langsung menghubungi rekan-rekan pedagang lain, termasuk di Pasar Gusher, untuk memastikan kondisi yang terjadi.
“Saya tahu informasinya dari orang yang memberitahu, lalu saya hubungi teman-teman pedagang di pasar lain juga,” ujarnya.
Menurut Yusran, dampak paling terasa terjadi pada hari ini karena jumlah pengunjung jauh berkurang. Padahal, pada hari normal pembeli sudah mulai ramai sejak pagi dan transaksi berjalan lancar.
“Biasanya dari pagi pembeli sudah masuk normal, tapi hari ini sangat kurang,” tuturnya.
Ia juga menyoroti surat yang beredar tertanggal 14 April 2026 terkait pengambilan sampel ayam. Menurutnya, selama setahun terakhir tidak ada pengambilan sampel seperti yang biasa dilakukan petugas, sehingga pedagang merasa dirugikan oleh informasi tersebut.
“Kalau dulu ada pengambilan sampel, kami tahu karena petugas datang dan hasilnya juga diberikan ke pedagang. Tapi yang sekarang ini kami merasa dirugikan,” terangnya.
Yusran menjelaskan, pada hari normal dirinya mampu menjual 30 hingga 40 ekor ayam per hari. Bahkan, sekitar pukul 10.00 WITA dagangannya kerap habis terjual. Namun hari ini, dari 20 ekor ayam yang dipotong sejak pukul 06.00 WITA, hampir seluruhnya belum terjual.
“Biasanya jam 10 pagi sudah habis, hari ini saya potong 20 ekor masih penuh, belum ada yang beli kecuali pelanggan tetap,” katanya.
Kondisi tersebut juga membuat pedagang harus menyimpan ayam yang tidak laku ke dalam freezer. Menurut Yusran, langkah itu merugikan karena harga ayam beku lebih rendah dibanding ayam segar.
“Kalau tidak laku terpaksa disimpan di freezer, padahal harga ayam freezer dengan ayam segar itu berbeda, ada penurunan harga,” tukasnya.
Di sisi lain, sebagian masyarakat mengaku sempat ragu setelah mendengar isu yang beredar. Salah seorang pengunjung pasar, Sekar, mengatakan dirinya mengetahui kabar tersebut dari grup RT dan cerita warga sekitar yang menyebut ada flu burung di Pasar Gusher dan Tenguyun.
“Saya tahu informasinya dari grup RT dan teman-teman sekitar,” katanya.
Meski sempat ragu, Sekar tetap memutuskan membeli ayam untuk kebutuhan rumah tangga karena belum ada kepastian informasi tersebut. Ia menilai kabar yang beredar masih perlu klarifikasi resmi dari pemerintah.
“Awalnya ada keraguan, tapi saya beli saja karena belum pasti juga dan belum ada klarifikasi resmi,” ujarnya.
Sekar menjelaskan, ayam merupakan salah satu menu rutin keluarganya di rumah. Dalam sepekan, konsumsi ayam biasanya dilakukan sekitar tiga kali secara bergantian dengan lauk lain seperti ikan dan tahu.
“Kalau di rumah memang selang-seling, biasanya seminggu tiga kali makan ayam,” tuturnya.
Warga lainnya, Santi, mengaku belum mendengar kabar soal isu flu burung sebelum datang ke pasar. Namun setelah mengetahui informasi itu, ia tetap tidak terlalu terpengaruh karena sumber kabar tersebut belum jelas.
“Saya belum dengar sebelumnya, tapi kalau sekarang tahu juga saya tidak terlalu terpengaruh karena belum jelas kebenarannya,” katanya.
Santi mengatakan dirinya cukup sering berbelanja ayam di Pasar Tenguyun untuk kebutuhan makan keluarga, terutama anak-anak. Karena itu, ia berharap masyarakat tidak mudah percaya pada kabar yang belum pasti.
“Saya sering beli di sini untuk makanan anak-anak. Kalau informasinya belum jelas, jangan langsung dipercaya,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







