benuanta.co.id, NUNUKAN – Kenaikan harga oli sepeda motor mulai menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Nunukan. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pemilik kendaraan mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan perawatan rutin, seiring meningkatnya harga berbagai jenis oli di pasaran.
Kondisi tersebut dirasakan oleh banyak warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan roda dua. Bagi pekerja, pelaku usaha, hingga pengemudi ojek online, kenaikan biaya perawatan kendaraan dinilai semakin menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Berdasarkan pantauan di sejumlah bengkel dan toko suku cadang di Nunukan, harga oli motor mengalami kenaikan secara bertahap. Beberapa jenis oli yang sebelumnya dijual dengan harga sekitar Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per botol kini berada pada kisaran Rp 55 ribu hingga Rp 65 ribu. Sementara untuk oli jenis semi sintetis dan full sintetis, harga jualnya mencapai Rp 80 ribu hingga lebih dari Rp100 ribu per kemasan.
Salah seorang warga Nunukan yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online Reno Renaldi (20), mengaku kenaikan harga oli cukup berdampak terhadap pengeluarannya. Sebagai pengemudi ojek yang mengandalkan sepeda motor setiap hari, ia harus melakukan servis dan penggantian oli secara rutin agar kendaraannya tetap prima.
“Kalau dulu sekali ganti oli masih sekitar Rp 50 ribuan, sekarang bisa mendekati Rp 70 hingga Rp 80 ribu kalau ditambah biaya jasa. Memang terlihat kecil, tapi kalau dilakukan rutin tentu cukup terasa,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Rahma (32), seorang pekerja swasta di Nunukan. Menurutnya, kenaikan harga oli menjadi bagian dari meningkatnya biaya operasional kendaraan yang harus ditanggung masyarakat.
“Motor adalah alat transportasi utama kami. Mau tidak mau tetap harus dirawat. Kalau harga oli terus naik, otomatis biaya bulanan juga ikut bertambah, apalagi bagi saya yang juga merupakan ibu rumah tangga” katanya.
Sementara itu, pemilik salah satu bengkel Diar Jaya Motor di Nunukan, Hendik Santoso, menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi mengikuti penyesuaian dari distributor. Selain faktor harga bahan baku, biaya distribusi ke daerah perbatasan juga disebut turut memengaruhi harga jual di tingkat pengecer.
“Kami hanya menyesuaikan harga dari distributor. Beberapa merek memang mengalami kenaikan secara bertahap sejak awal tahun. Namun sejauh ini pelanggan tetap melakukan penggantian oli karena itu merupakan kebutuhan perawatan kendaraan, walaupun keliatan dari raut wajah mereka yang keliatan terpaksa” ungkap Endik.
Menurut Endik, sebagian pelanggan kini mulai memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau. Namun ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunda penggantian oli terlalu lama hanya demi menghemat pengeluaran.
“Kalau oli terlambat diganti, risiko kerusakan mesin bisa lebih besar dan biaya perbaikannya justru jauh lebih mahal,” tambahnya.
Pengamat ekonomi daerah menilai kenaikan harga oli merupakan bagian dari tren meningkatnya biaya distribusi dan logistik yang turut memengaruhi harga sejumlah kebutuhan otomotif. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap melakukan perawatan kendaraan secara berkala demi menjaga keselamatan dan kenyamanan saat berkendara.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap harga kebutuhan otomotif dapat kembali stabil sehingga biaya perawatan kendaraan tidak semakin membebani masyarakat, khususnya mereka yang setiap hari bergantung pada sepeda motor untuk bekerja dan mencari nafkah. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli








