benuanta.co.id, TARAKAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/Y-on-Y) pada Agustus 2025 sebesar 2,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 106,55. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran dibandingkan Agustus 2024.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, SST, M.Si., menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada periode ini dengan andil sebesar 1,02 persen.
“Kontribusi makanan, minuman, dan tembakau cukup dominan karena adanya kenaikan harga kebutuhan pokok,” ungkapnya, Rabu (10/9/2025).
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil besar terhadap inflasi dengan sumbangan 0,73 persen. Umar mengatakan, peningkatan kebutuhan masyarakat di sektor ini cukup terasa.
“Permintaan terhadap produk perawatan dan jasa lainnya meningkat sehingga memicu kenaikan harga,” katanya.
Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi, salah satunya adalah transportasi dengan andil minus 0,35 persen.
“Transportasi memberikan pengaruh deflasi karena adanya penurunan tarif pada beberapa moda angkutan,” jelasnya.
Jika dilihat dari inflasi bulanan (month-to-month/M-to-M), Tarakan justru mengalami deflasi sebesar 0,07 persen pada Agustus 2025. Umar menyebut kondisi ini menandakan adanya penurunan harga pada beberapa komoditas tertentu.
“Deflasi bulanan ini mengindikasikan harga di pasar masih fluktuatif dan cenderung menurun pada komoditas tertentu,” ucapnya.
Untuk inflasi sepanjang tahun kalender (year-to-date/Y-to-D), Tarakan mencatat angka 1,50 persen. Menurut Umar, angka ini masih dalam batas wajar.
“Inflasi sejak Januari hingga Agustus 2025 masih terjaga, berada pada level yang aman bagi perekonomian,” ujarnya.
Jika dibandingkan wilayah lain di Kalimantan Utara, inflasi tahunan Kota Tarakan berada di posisi 2,01 persen, lebih tinggi dibanding Kabupaten Nunukan yang tercatat 1,76 persen, namun lebih rendah dibanding Tanjung Selor dengan inflasi 3,21 persen.
“Kondisi ini menunjukkan perbedaan dinamika harga antarwilayah di Kaltara, tergantung pada faktor permintaan dan ketersediaan pasokan,” tambahnya.
Tren inflasi tahunan Kota Tarakan sejak Agustus 2024 hingga Agustus 2025 juga memperlihatkan pergerakan yang berfluktuasi. Pada Desember 2024, inflasi tercatat 1,60 persen, lalu sempat turun hingga minus 0,68 persen pada Februari 2025, sebelum kembali naik stabil di atas 1 persen mulai April hingga Agustus 2025.
“Data ini menunjukkan inflasi dipengaruhi oleh faktor musiman serta pergerakan harga kebutuhan pokok,” tandasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







