Pembangunan Kawasan Industri Hijau Punya Dampak yang Harus Diminimalisasi

benuanta.co.id, BULUNGAN – Seminar Nasional Kaltara Menuju Pembangunan Hijau yang terlaksana atas prakarsa Ikatan Alumni Fakultas Kehutanan (IKA Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul) Cabang Kaltara sukses digelar. Hadir narasumber yang berkompeten, salah satunya Professor Dr Rudianto Amirta Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.

Guru Besar Fahutan Unmul ini mengatakan pembangunan kawasan industri hijau di Bulungan tentunya memiliki banyak dampak, sehingga perlu dilakukan pengantisipasian sejak awal.

“Dalam presentasi saya yang perlu kita sikapi dari semua perencanaan ini adalah merencanakan lebih detail, mengantisipasi beberapa hal yang secara general itu ditemukan sebagai dampak pembukaan di lokasi lain, baik itu berada di kawasannya sendiri maupun di kawasan penyangganya, sumber bahan baku maupun residensial nantinya,” ucap Professor Rudianto Amirta kepada benuanta.co.id, kemarin.

Dia harapkan di kawasan industri hijau itu, sudah memiliki kajian lingkungan yang matang. Pasalnya di setiap perencanaan perubahan dari bentang lingkungan harus dilengkapi dengan dokumen berupa kajian lingkungan.

Kata dia, selain belajar, edukasi dan mencari tahu lebih jauh tentang project tersebut. Maka perlu dibuat kajian yang bisa dilakukan berdasarkan yang sudah ada. Yang dipertanyaan kajian lingkungan ini sudah atau belum, kalau belum wajib dibuat.

“Kami di Fahutan contohnya, ketika IKN ditetapkan, mereka harus tunduk pada aturan melengkapi KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) nya,” ujarnya.

“Ketika kajian dibuat maka akan ada pilihan, perencanaan situasi A misalnya, treatmentnya seperti ini, risikonya akan ditanggulangi dengan A,B,C. Ketika itu ada, bisa diminimalisasi. Saya tidak bilang tidak akan ada risiko, tapi bisa diminimalisasi. Ketika berbicara cost, benefit, sosial, lingkungan, akan lebih banyak benefitnya,” terangnya.

Dia menuturkan pembangunan itu pilihan, ketika pilihan untuk banyak manfaat yang bisa dirasakan maka itu akan dipilih. Ketimbang tidak membuat pilihan dan tidak siap dangan antisipasi itu. Rudianto Amirta mengatakan dampak yang akan terjadi di wilayah tersebut berupa perubahan dasar, dari komunitas masyarakat yang bergantung pada nelayan beralih ke industri.

“Kita tidak siap kalau tidak dilatih. Akan ada zona baru, bergeser apabila operasi manufaktur sudah jalan. Ini bukan bicara di sentral saja. Spot pendamping dan dialihkan. Benefit ekonomi harus jauh lebih baik. Bukan memindahkan kesengsaraan. Masyarakat harus diberdayakan dan dilakukan pendampingan. Jangan sampai ketika berjalan yang muncul hanya komplain saja,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *