Banyak Kasus Bunuh Diri di Kaltara, Psikolog Ungkap Kondisi Mental yang Kompleks 

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus bunuh diri yang kerap terjadi belakangan di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) mengundang perhatian Psikolog.

Baru-baru ini kasus bunuh diri di Kota Tarakan terjadi pada anak usia remaja. Tak hanya di Kota Tarakan, hal serupa juga belakangan terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ketua Himpunan Psikolgi Indonesia (HIMPSI) Kaltara, Sulistyowati, S.Psi., Psikolog, menuturkan hal ini merupakan tragedi kesehatan mental yang kompleks dan tidak bisa disimpulkan hanya karena satu penyebab semata.

Baca Juga :  Kemenag Kaltara Catat 2.281 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 Hijriah

Menurutnya, tindakan bunuh diri pada remaja kerap menjadi puncak dari akumulasi rasa sakit emosional yang mendalam, rasa putus asa, hingga perasaan tidak berdaya atau helplessness.

“Sangat prihatin. Bunuh diri pada remaja merupakan tragedi kesehatan mental yang kompleks, bukan dari satu penyebab tunggal. Remaja bisa merasa sudah tidak memiliki jalan keluar lagi atas masalah yang dihadapinya,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan terdapat sejumlah faktor psikologis yang sering menjadi tekanan berat bagi remaja hingga memicu tindakan nekat. Faktor tersebut di antaranya depresi klinis dan gangguan kecemasan yang tidak terdiagnosis maupun tidak ditangani dengan baik.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Masih Hitung Kebutuhan, Usulan CPNS 2026 Belum Diajukan

Selain itu, krisis identitas dan ketidakstabilan emosi pada masa transisi remaja juga menjadi faktor penting. Ditambah lagi dengan rasa kesepian ekstrem dan perasaan tidak diinginkan oleh lingkungan sekitar.

“Trauma masa lalu seperti kekerasan domestik, pelecehan seksual maupun perundungan atau bullying juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis remaja,” ungkapnya.

Ia menambahkan remaja juga memiliki tingkat impulsivitas yang tinggi, sehingga cenderung bertindak nekat ketika emosi memuncak tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Baca Juga :  12 Pelajar Kaltara Lolos Seleksi SMA Unggul Garuda, Sekprov: Sangat Ketat dan Kompetitif

“Pada remaja, bagian otak pengatur emosi (amigdala) berkembang lebih cepat daripada
bagian otak pengatur logika dan kontrol diri (prefrontal korteks). Akibatnya, remaja merasakan emosi jauh lebih intens, lebih reaktif, dan rentan terhadap masalah identitas, penerimaan teman sebaya, serta masa depan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *