benuanta.co.id, TARAKAN – Keberadaan sesar lokal yang belum teridentifikasi di wilayah Kalimantan, menjadi perhatian setelah aktivitasnya terdeteksi melalui gempa kecil yang sempat dirasakan di timur laut Tarakan kemarin.
Kepala Stasiun BMKG Balikpapan, Rasmid, M. Si., mengungkapkan gempa bumi yang berkekuatan magnitudo 2,6 tersebut dipicu oleh aktivitas sesar lokal yang diduga berada di kawasan Kubu Raya, Kalimantan Barat. Meski tergolong kecil, kemunculan gempa ini menjadi petunjuk awal adanya pergerakan struktur geologi yang sebelumnya belum teridentifikasi.
“Gempa M2,6 yang terjadi di timur laut Tarakan disebabkan oleh aktivitas sesar lokal di wilayah Kubu Raya,” ungkapnya, Selasa (14/4/2026).
Menindaklanjuti temuan tersebut, BMKG kini memusatkan perhatian pada sesar yang diduga menjadi sumber gempa. Hingga saat ini, sesar tersebut belum memiliki nama maupun karakteristik yang jelas karena masih dalam proses identifikasi.
“Sesar ini belum diberi nama dan masih terus kami identifikasi,” jelasnya.
Menurutnya, aktivitas sesar ini sudah mulai terpantau sejak awal tahun 2026 dan menunjukkan adanya peningkatan yang perlu dicermati. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk melihat pola pergerakan dan intensitas aktivitasnya dari waktu ke waktu.
“Sejak Januari 2026 kami melihat ada peningkatan aktivitas yang terus kami monitor,” katanya.
Ia menerangkan hingga saat ini, arah pergerakan sesar maupun panjang patahannya belum dapat dipastikan karena keterbatasan data yang tersedia. Hal tersebut menjadi kendala utama dalam menentukan karakteristik sesar secara menyeluruh.
“Kami belum mengetahui panjang sesar maupun arah pergerakannya secara pasti,” terangnya.
Lebih lanjut, Rasmid menyebutkan informasi mengenai panjang sesar sangat penting untuk menentukan potensi kekuatan gempa yang mungkin dihasilkan. Tanpa data tersebut, analisis potensi maksimum gempa belum dapat dilakukan secara akurat.
“Penentuan potensi gempa sangat bergantung pada panjang sesar yang belum kami ketahui,” tegasnya.
Ia menambahkan meskipun ada indikasi peningkatan aktivitas, pihaknya belum dapat memprediksi besaran gempa yang mungkin terjadi di masa mendatang. Semua masih dalam tahap pengumpulan dan analisis data lapangan.
“Kami belum bisa memprediksi gempa yang akan terjadi karena datanya belum lengkap,” bebernya.
Dalam proses identifikasi ini, BMKG terus mengumpulkan berbagai data pendukung guna memetakan secara lebih rinci karakter sesar tersebut. Upaya ini dilakukan untuk memastikan informasi yang dihasilkan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Saat ini kami masih terus mengumpulkan data untuk identifikasi lebih lanjut,” katanya.
Rasmid juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya terkait aktivitas sesar tersebut. Masyarakat diminta tetap mengacu pada informasi resmi dari BMKG guna menghindari kesalahpahaman.
“Tetap tenang dan percayakan informasi resmi dari BMKG,” pesannya.
Dengan masih berlangsungnya proses identifikasi, keberadaan sesar misterius ini menjadi perhatian serius bagi BMKG untuk terus dipantau. Langkah ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi risiko yang mungkin timbul di kemudian hari.
“Kami akan terus memonitor perkembangan aktivitas sesar ini secara intensif,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







