benuanta.co.id, TARAKAN – Kesadaran dan kepedulian masyarakat terkait kesehatan mental dinilai perlu terus ditingkatkan.
Salah satu yang perlu diwaspadai yaitu perubahan perilaku secara drastis, kondisi ini merupakan tanda seseorang mengalami tekanan psikologis.
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), Sulistyowati menyebutkan terdapat sejumlah warning signs atau tanda bahaya yang dapat dikenali sejak dini. Di antaranya perubahan emosi seperti menjadi sangat murung, mudah marah, cemas berlebihan atau justru mendadak tampak datar tanpa emosi.
Selain itu, seseorang yang mengalami tekanan psikologis juga cenderung menarik diri dari keluarga, teman maupun aktivitas yang sebelumnya disukai.
“Tanda lainnya bisa berupa pola tidur yang berubah drastis, berat badan naik atau turun secara signifikan, hingga penurunan fungsi berpikir dan akademik,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal verbal maupun perilaku tertentu, seperti sering membicarakan kematian, membuat surat wasiat atau membagikan barang berharga.
Menurutnya, setiap ancaman bunuh diri harus disikapi secara serius dan tidak dianggap sebagai upaya mencari perhatian semata.
“Validasi emosi sangat penting. Dengarkan keluhan mereka tanpa menyela, menceramahi atau mengecilkan masalahnya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, keluarga juga diimbau memastikan benda-benda berbahaya seperti obat dosis tinggi, benda tajam maupun tali tidak mudah diakses oleh seseorang yang sedang mengalami krisis emosional.
Ia turut menekankan pentingnya bantuan profesional melalui psikolog maupun psikiater agar individu yang mengalami tekanan mental mendapat penanganan medis dan terapi yang tepat.
Dirinya juga mengimbau seluruh pihak meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental remaja guna mencegah terulangnya kasus bunuh diri.
Ia menilai pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga, tetapi memerlukan keterlibatan sekolah, media, masyarakat hingga teman sebaya.
Kepada orang tua, Sulistyowati menyarankan agar membangun komunikasi yang demokratis serta menjadi pendengar yang aman bagi anak.
“Kurangi tuntutan yang tidak realistis kepada anak dan ciptakan ruang komunikasi yang nyaman,” tuturnya.
Sementara kepada sekolah dan institusi pendidikan, ia meminta layanan bimbingan konseling (BK) dibuat lebih ramah anak, proaktif dan menjaga kerahasiaan siswa. Selain itu, edukasi kesehatan mental secara berkala dinilai penting untuk mengurangi stigma negatif di masyarakat.
Ia juga mengingatkan media dan masyarakat agar tidak menyebarkan detail metode bunuh diri maupun identitas korban secara terang-terangan demi mencegah efek penularan.
“Media sebaiknya lebih banyak menyebarkan informasi layanan bantuan, hotline maupun akses profesional kesehatan mental,” pungkasnya.
Tak kalah penting, teman sebaya juga diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku teman dekat dan segera melapor kepada orang dewasa terpercaya apabila menemukan tanda-tanda bahaya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







