oleh

Laka Laut “Mengancam” Nelayan

SEBAGIAN besar wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) terdiri dari laut dan sungai yang rata-rata masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Sehingga laka laut menjadi salah satu kejadian yang sering terjadi di Kaltara. Korbannya juga paling banyak dialami para nelayan, sehingga hal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Terlebih, jaminan sosial korban laka laut selama ini kurang diperhatikan.

LAKA laut menjadi kejadian yang paling sering terjadi di hampir semua daerah di Kaltara. Mulai dari insiden tabrakan perahu cepat hingga nelayan tenggelam. Para korban laka laut nyaris 80 persen meninggal dunia, dan ada juga yang luka berat. Penyebabnya pun beragam, kelalaian menjadi faktor utama dari laka laut. Hal itu tak bisa dipungkiri lantaran masih kurangnya kesadaran sebagian besar nelayan terhadap alat keselamatan.

Meski pihak terkait telah memberikan pengarahan hingga pelatihan terkait peralatan keselamatan yang wajib digunakan para nelayan maupun kapal cepat, namun hal itu hanya diterapkan sebagian kecil dari para nelayan maupun motoris kapal cepat. Tak lain dikarenakan masyarakat Kaltara yang bekerja di laut masih mengandalkan pengalaman dan alat keselamatan tradisional.

Basarnas Tarakan mencatat Selama tahun 2020 sebanyak 26 kejadian digelar operasi SAR di Provinsi Kaltara oleh Basarnas Tarakan yang membawahi Kaltara, terdiri 8 kali kecelakaan kapal, bencana alam 1 kejadian, dan Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) sebanyak 17 kejadian.

Dari jumlah korban, untuk kejadian kecelakaan kapal dari 8 kasus 12 orang selamat 7 meninggal dunia dan 7 orang hilang, total 26 orang. Dari bencana alam 1 kali kejadian 3 orang selamat, 11 meninggal dunia total 14 orang. KMM dari 17 kejadian 6 orang berhasil selamat, 11 meninggal dunia total 17 orang. Untuk tahun 2021, hingga Mei yang masih berjalan telah terjadi 7 kejadian dengan rincian 3 KMM dan 4 kecelakan kapal.

“Untuk KKM memang korbannya kebanyakan nelayan, karena kebanyakan nelayan yang melakukan aktifitas pencarian di tambak, di sungai, di perairan, mata pencarian memang nelayan,” ungkap Kepala Kantor Basarnas Tarakan Amiruddin, A.S, S.Sos.

Selain nelayan sebagai korban KMM, terdapat juga petani tambak yang diterkam buaya, serta anak tenggelam di sungai. Kemudian soal kecelakaan kapal, menurut Basarnas Tarakan penyebab utamanya karena kesalahan manusia (human error) sehingga menyebabkan korban bahkan korban jiwa. Paling ringan adalah kapal atau speedboat kandas, mati mesin, kehabisan bahan bakar dan paling parah seperti kejadian di perairan Juata Laut speedboat reguler menabrak perahu ketinting bermuatan nelayan.

“Kecelakaan kapal salah satu faktor penyebab terjadi karena human error, kesalahan manusia sehingga terjadi tabrakan, terjadi man overboat (orang jatuh di laut), dia gunakan kapal lalu dia terjatuh, ada kapalnya tabrakan, speedboat terbalik, muatan overload,” ujarnya.

Kembali soal KMM, kata Amiruddin korban bisa tenggelam karena tidak dilengkapi oleh alat keselamatan berupa jaket pelampung (life jacket). Kesadaran masyarakat masih minim terkait pentingnya penggunaan life jacket saat beraktifitas di perairan. Padahal, penggunaan life jacket bisa meminimalisir orang tenggelam.

“Yang kita temukan mereka bisa tenggelam karena tidak menggunakan alat keselamatan, yang kami maksud seperti life jacket, dan aturan dalam melaksanakan aktifitas di atas permukaan air itu wajib melengkapi diri dengan alat-alat keselamatan, ada life jacket sehingga apabila mereka mengalami suatu accident atau kecelakaan atau pun terjatuh ke laut bisa tidak langsung tenggelam karena memiliki alat pelindung diri dalam hal ini life jacket,” terangnya.

Ia juga turut prihatin terhadap masyarakat yang terkesan over confident (penuh percaya diri) saat beraktifitas di laut atau perairan tidak dilengkapi life jacket dengan alasan telah terbiasa. “Nelayan atau masyarakat yang melakukan aktifitas menyusuri sungai, di tambak mungkin memiliki alat keselamatan tapi mereka lebih percaya diri dengan kebiasaan mereka seperti bisa selamat, tidak ada apa-apa, bisa berenang, itu salah satu faktor bisa terjadi korban karena terlalu over confident (percaya diri),” ujarnya.

“Mereka sudah mendapatkan sosialisasi peran keselamatan, bagaimana peralatan keselamatan, tapi karena tidak terjadi ke mereka saat beraktifitas jadi dianggap sepeleh, begitu mengalami kejadian itu sudah terlambat,” kesalnya.

Basarnas menyarankan speedboat yang melayani antar pulau, daratan, semua penumpang atau orang harus menggunakan alat keselamatan berupa life jacket. “Minimal standby life jacket di perahunya, kalau terjadi kecelakaan mereka bisa cepat terselamatkan atau tidak tenggelam,” ucapnya.

Basarnas mengimbau operator maupun masyarakat penggiat tambak, nelayan, setiap saat melakukan aktifitas di atas permukaan air ataupun menggunakan perahu wajib gunakan life jacket. Walaupun terkesan tidak nyaman saat mengenakan life jacket karena tidak leluasa bergerak, namun apabila terjadi suatu accident yang bersangkutan tidak tenggelam karena memiliki alat apung. Kemudian jika dikatakan ajal, lanjut Amiruddin, korban bisa cepat ditemukan. Ia berharap penyedia jasa transportasi dilengkapi peralatan keselamatan life jacket.

“Kita tidak bisa prediksi soal kecelakaan, hanya apa yang harus kita lakukan kalau terjadi kecelakaan, jadi perlu dilengkapi perlengkapan keselamatan, gunakan alat keselamatan di kapal penumpang mudah dijangkau oleh penumpang kalau kapal passenger, setiap penumpang harus menggunakan life jacket,” tegasnya.

Salah satu kejadian laka laut terhadap nelayan yang dilaporkan hilang di Perairan Merungau bernama Sudirman (58) merupakan kejadian laka laut terbaru di tahun 2021. Sudirman dinyatakan hilang setelah 2 hari tak kunjung pulang dari Perairan Marungu. Warga yang beralamat di Lingkas Ujung, Tarakan ini dilaporkan pihak keluarganya kepada Basarnas Tarakan karena tak kunjung pulang. Amiruddin mengatakan, dari laporan yang diterima, diduga terjadi kecelakaan kapal dengan Man Overboard terhadap Sudirman pada Senin, 17 Mei 2021.

Dalam pencarian itu, diterangkan juga oleh Kasi Ops Basarnas Tarakan, Dede Hariana mengatakan, telah ditemukan longboat yang diduga milik korban di perairan Tanjung Haus. “Tim SAR menemukan longboat milik Sudirman, namun Sudirman tidak ditemukan di sekitar longboat tersebut,” ujar Dede, Rabu (19/5/2021).

Pencarian itu hanya menemukan longboat milik Sudirman sudah terlihat terombang-ambing tanpa ada orang di atasnya mulai Selasa (18/5/2021) di siang hari. “Tumpukan udang yang diduga merupakan hasil tangkapan Sudirman juga ditemukan dalam keadaan membusuk di atas kapal,” terangnya.

Sementara itu, Hj. Faiga, istri Sudirman mengatakan handphone (HP) milik suaminya tidak bisa dihubungi sejak pukul 17.00 WITA hari di mana Sudirman berangkat mencari nafkah, hingga Selasa (18/5/2021) juga tidak ada jawaban dari Sudirman.

“Hari Senin dia jalan, sore ku telpon tidak diangkat HP-nya, jadi pas sudah salat maghrib juga gak aktif, salat isya gak aktif, sampai salat subuh juga tidak aktif,” ujarnya seperti yang dikutip dari benuanta.co.id, Kamis (20/5/2021).

Kebetulan pada hari Rabu (19/5/2021), Faiga juga mengantar anaknya ke Pengadilan untuk sidang mengurus pernikahan, dihubungi ke nomor HP Sudirman juga tetap tidak aktif. “Rabu pagi, datang sudah informasi dari nelayan lain, ada longboat milik Sudirman ditemukan namun tidak ada orangnya,” jelas Faiga.

“Sekarang sudah 3 malam tak ada kabar, biasanya memang menjala perlu durasi 1 minggu, tapi Senin kemarin dia berjanji hanya menarik saja, Selasa ke Sungai Nyamuk, lalu Kamis tiba di Tarakan karena persiapan pernikahan anaknya di hari Minggu (23/5/2021),” tuturnya.

Tim Rescue Kansar Tarakan, Muhammad Mashuri Durhan mengatakan nelayan setempat sempat mendengar dering handphone (HP) di Long Boat milik Sudirman. “Pada Selasa (18/5/2021) kesaksian dari para nelayan setempat saat melewati perairan, terdengar nada dering HP di kapal milik Sudirman, tapi gak ada orang di atas kapalnya,” Kata Mashuri.

Selain itu, sebelumnya juga ada nelayan yang baling-baling mesinnya tersangkut di trol jala udang dari long boat milik Sudirman, nada dering juga terdengar saat itu. “Ada nelayan lewat, mesinnya tersangkut di trol jala milik Sudirman yang memang belum diangkat, di situ para nelayan mendengar dering telpon di atas kapal Sudirman bunyi terus, para nelayan juga gak ada yang berani menjawab atau mengambil HP tersebut,” terangnya.

Dari kesaksian tersebut, diduga Sudirman meninggalkan kapal dengan tidak membawa HP dan belum selesai mengangkat trol jala udang miliknya. Mashuri lanjut menjelaskan, pencarian kedua dibantu oleh instansi terkait, keluarga korban dan sebanyak 9 orang dari mereka berjalan kaki menyisiri pesisir perairan Marungau.

Hingga berita ini diturunkan, Sudirman masih dalam pencarian Basarnas dan Tim SAR gabungan yang dibantu para nelayan dan pihak keluarga. Kepala Kantor Basarnas Tarakan, Amiruddin, A.S, S.Sos menekankan kepada masyarakat Kaltara, jangan sungkan menghubungi Basarnas Tarakan bila terjadi suatu kejadian atau accident.

“Kami sampaikan Basarnas tidak dipungut biaya, selama ini ada masyarakat berpikir Basarnas ini dibayar, memang setiap ada kejadian kecelakaan atau musibah negara ini mesti hadir yang dimaksud negara ini adalah yang diwakili Basarnas, kami sudah dianggarkan oleh negara untuk membantu masyarakat yang mengalami accident, tidak dipungut biaya di wilayah Kaltara, kalau ada laporan kami langsung aksi,” kata dia.

Amiruddin menambahkan, RIB milik Basarnas Tarakan saat ini telah memiliki alat pendeteksi benda-benda di permukaan air. Bahkan Basarnas sedang mengusulkan peralatan yang bisa digunakan pada malam hari berupa camera night visition.

“Untuk wilayah yang rawan di perairan Kaltara itu di daerah sungai Kabupaten Bulungan dan sekitar perairan Pulau Bunyu,” pungkasnya. (ram/kik/bn)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *