benuanta.co.id, TARAKAN – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini berlangsung di tengah berbagai dinamika kebangsaan di sejumlah daerah. Munculnya penggunaan bendera yang merepresentasikan identitas kedaerahan di tengah momentum peringatan kemerdekaan, kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan dan memaknai Merah Putih sebagai simbol bersama seluruh rakyat Indonesia.
Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., mengungkapkan persoalan persatuan dan kebangsaan menjadi hal yang sangat krusial bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, agama, ras dan etnis. Menurutnya, keberagaman tersebut dapat menjadi potensi kerawanan apabila tidak dikelola dengan baik.
“Persoalan kebangsaan ini kan menjadi hal yang sangat krusial sekarang di negara yang sangat majemuk ini,” ungkapnya, Senin (17/8/2026).
Ia menilai kondisi tersebut juga relevan dengan Tarakan yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang. Tarakan selama ini disebut sebagai miniatur Indonesia karena masyarakatnya berasal dari berbagai suku dan daerah, mulai dari Sumatera hingga Papua.
“Tarakan kan kita selalu bilang bahwa Tarakan miniatur Indonesia, terdiri dari berbagai suku, hampir semua suku ada di sini,” ujarnya.
Keberagaman di Tarakan tidak hanya terlihat dari latar belakang suku, tetapi juga kehidupan beragama. Khairul menyebut enam agama yang diakui pemerintah hidup di Tarakan, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu, serta terdapat pula sejumlah aliran lainnya.
“Saya kira enam agama yang diakui pemerintah ada semua di sini, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, bahkan ada beberapa aliran yang lain,” paparnya.
Menurut Khairul, keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang perlu terus dirawat. Namun, apabila tidak dirajut dengan komunikasi dan hubungan yang baik, perbedaan juga berpotensi menimbulkan kerawanan di tengah masyarakat.
“Ini kan potensi, saya kira potensi kerawanan kalau tidak dirajut dengan baik,” tegasnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat Tarakan untuk terus menjaga komunikasi dan membangun pertemuan antarkelompok sebagai bagian dari upaya merawat persatuan. Menurutnya, hubungan yang baik antarwarga perlu terus dibangun agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik.
“Melalui komunikasi, pertemuan-pertemuan terus seperti tadi kita selalu menumbuhkan rasa nasionalisme di antara warga kita,” katanya.
Khairul berharap dinamika yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk munculnya simbol-simbol identitas kedaerahan, tidak berkembang di Tarakan maupun Kalimantan Utara. Ia menilai semangat nasionalisme perlu terus diperkuat agar keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
“Harapannya sih mudah-mudahan itu tidak terjadi di Tarakan dan Kalimantan Utara pada umumnya,” tukasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Kota Organisasi Orang Indonesia (OI) Tarakan, Che Ageng, memandang penggunaan bendera lain sebagai hak masing-masing orang. Namun, ia menilai ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah seharusnya tidak dikaitkan dengan Merah Putih sebagai simbol perjuangan bangsa.
“Kalau dari teman-teman OI, melihatnya mungkin itu hak daripada masing-masing orang,” ujarnya.
Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang berbeda dari penghormatan terhadap simbol negara. Ketika masyarakat tidak menyetujui kebijakan pemerintah, kritik dapat disampaikan kepada pemerintah maupun kebijakannya tanpa harus mempertentangkan dengan keberadaan Merah Putih.
“Ketika ada hal-hal yang katakanlah kita tidak setuju atau tidak suka dengan kebijakan pemerintah, saya pikir tidak ada sangkut-pautnya dengan bendera Merah Putih,” katanya.
Che Ageng mengingatkan, Merah Putih memiliki sejarah yang tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, pengibaran Merah Putih dan penghayatan terhadap lagu Indonesia Raya dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pejuang.
“Bendera Merah Putih ini ada itu karena ada para pejuang-pejuang, pahlawan kita terdahulu,” jelasnya.
Ia menilai keberadaan Merah Putih seharusnya tetap menjadi simbol yang menyatukan masyarakat, termasuk ketika terjadi perbedaan pandangan terhadap pemerintah. Menurutnya, sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah tetap dapat berjalan tanpa harus meninggalkan simbol negara.
“Kalau kami, ketika kami tidak suka dengan kebijakan pemerintah dan segala macam, ya kita kritik pemerintahnya,” tegasnya.
Che Ageng bahkan menekankan Merah Putih tetap harus dikibarkan dan dibawa sebagai identitas bersama bangsa Indonesia, terlepas dari siapa pihak yang sedang dikritik atau dianggap sebagai lawan dalam suatu persoalan.
“Merah Putih harus tetap berkibar, dan harus tetap kita bawa siapapun musuhnya. Walaupun bangsa kita sendiri, tetap kita pakai Merah Putih,” ujarnya.
Selain persoalan persatuan, Che Ageng memaknai peringatan kemerdekaan tahun ini dengan keprihatinan terhadap masyarakat di sejumlah daerah yang sedang menghadapi musibah. Ia menyebut saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur, turut mengalami musibah dan diharapkan dapat memperoleh kekuatan untuk melewati kondisi tersebut.
“Untuk tahun ini, kita sedikit berduka. Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur mengalami musibah,” katanya.
Menurutnya, musibah yang dialami masyarakat di daerah lain seharusnya menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan juga berkaitan dengan kepedulian terhadap sesama. Ia berharap masyarakat yang terdampak dapat bangkit dan tidak kehilangan semangat menghadapi situasi sulit.
“Harapan kita juga dengan momen ini, mereka juga semakin kuat. Dengan adanya musibah ini, mereka kuat, mereka jangan lemah,” harapnya.
Ia pun berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali memperkuat kebersamaan dan saling membantu. Berbagai perbedaan dan persoalan yang muncul di tengah bangsa, menurutnya, tidak seharusnya menghilangkan semangat untuk bergotong royong ketika ada masyarakat yang membutuhkan.
“Warga masyarakat Indonesia ini kembali bangkit, kembali bangkit, kemudian bahu-membahu, bahwa ada saudara kita yang terluka,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








