benuanta.co.id, BULUNGAN — Kabut asap mulai menyelimuti wilayah Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara), akibat meningkatnya titik panas dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Forecaster BMKG Tanjung Harapan, Agus, mengatakan, meski hal tersebut terjadi, kondisi jarak pandang di Tanjung Selor masih tergolong aman untuk aktivitas penerbangan. Saat ini jarak pandang masih berada di kisaran 5 hingga 8 kilometer.
“Untuk jarak pandang sendiri di Tanjung Selor masih dalam keadaan normal, masih di atas 5 kilometer hingga 8 kilometer. Itu belum mengganggu aktivitas penerbangan,” kata Agus, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, meski masih terdapat sejumlah titik api yang tersebar, kondisi jarak pandang belum memberikan dampak signifikan terhadap penerbangan. Ambang batas jarak pandang untuk penerbangan di Tanjung Selor berada di sekitar 5 kilometer.
Namun, masyarakat diminta tetap mewaspadai dampak kabut asap terhadap kesehatan. Kondisi kabut biasanya lebih pekat pada malam hingga pagi hari karena bercampur dengan tingginya kelembapan udara.
“Biasanya kabut lebih pekat terjadi di subuh hingga pagi hari. Kabutnya ada dari asap dan ada kabut dari faktor mikroskopis sendiri,” ujarnya.
Agus menjelaskan, sumber titik panas tidak hanya berasal dari Kaltara. Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat juga terpantau memiliki titik api. Kondisi tersebut diperparah oleh angin yang dominan bergerak dari arah selatan. Angin dari Australia yang cukup kencang dan kering turut membawa dampak kabut asap ke wilayah Kaltara.
“Sebagian besar dari Kalimantan Utara dan juga dari daerah lain. Kami juga memantau beberapa daerah di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat banyak titik api,” jelasnya.
Sementara untuk aktivitas pelayaran sungai, Agus menilai kondisi jarak pandang masih cukup baik. Namun, kondisi di laut perlu mendapat perhatian karena jarak pandang dapat dipengaruhi efek ilusi atau fatamorgana.
Tak hanya itu Agus juga mengatakan hujan yang terjadi di sejumlah wilayah Kaltara dalam beberapa hari terakhir masih bersifat lokal. Kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap dinamika musim.
BMKG memperkirakan sebagian wilayah Kaltara masih akan mengalami musim kemarau hingga Oktober. Kondisi kekeringan bahkan berpotensi terjadi hingga akhir Oktober di sejumlah daerah.
“Untuk prediksi musimnya, kami prediksikan Oktober masih kemarau,”tuturnya.
Ia menyebut wilayah Nunukan dan Malinau diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan dibandingkan beberapa wilayah lainnya.
Selain berdampak terhadap kabut asap, kondisi angin juga berpengaruh terhadap tinggi gelombang laut. Menurut Agus, angin dengan kecepatan sekitar 20 hingga 40 knot dapat memicu gelombang laut mencapai 1,5 hingga 2 meter.
“Kalau anginnya kencang otomatis gelombang tinggi. Tapi selama angin tidak kencang, gelombang juga masih normal,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina








