benuanta.co.id, BULUNGAN – Aktivitas anak usia sekolah yang masih berjualan hingga larut malam di sejumlah kawasan Tanjung Selor menjadi perhatian. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap waktu belajar dan istirahat anak.
Anak yang seharusnya menjalani aktivitas pendidikan pada siang hari, masih harus membantu berjualan hingga malam. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi itu dikhawatirkan mengganggu kehadiran maupun konsentrasi anak saat mengikuti pembelajaran di sekolah.
Tidak hanya persoalan waktu belajar, aktivitas bekerja pada usia sekolah juga menjadi kondisi yang perlu diperhatikan dalam upaya mencegah Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data per 21 September 2026 menunjukkan, basis data ATS Kabupaten Bulungan mencatat sebanyak 2.533 anak usia 6-18 tahun masuk kategori anak tidak sekolah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.050 anak tercatat belum pernah bersekolah, kemudian 843 anak mengalami putus sekolah atau Drop Out (DO). Sementara 647 anak lainnya tercatat lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan.
Data tersebut masih dalam proses pemutakhiran. Dari 2.533 anak yang tercatat, sebanyak 1.287 anak sudah dilakukan verifikasi, sedangkan 1.246 anak lainnya belum diverifikasi.
Kondisi anak yang masih berjualan hingga malam menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena kegiatan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi pendidikan maupun keadaan keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan, Suparmin, mengatakan keberadaan anak yang masih berjualan pada malam hari perlu dilihat dari kondisi pendidikan masing-masing anak.
“Jangan sampai aktivitas anak membantu berjualan justru membuat sekolahnya terganggu. Mereka tetap perlu mendapatkan waktu yang cukup untuk belajar dan beristirahat,” kata Suparmin Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, kondisi setiap anak bisa berbeda. Karena itu, perlu diketahui apakah anak tersebut masih aktif bersekolah, mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran atau justru sudah tidak lagi mendapatkan layanan pendidikan.
Persoalan tersebut juga tidak hanya berkaitan dengan pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga dapat menjadi salah satu alasan anak ikut membantu orang tua mencari penghasilan.
Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan orang tua dan sejumlah pihak terkait agar kebutuhan ekonomi keluarga tidak kemudian membuat pendidikan anak terabaikan.
“Kalau anak masih dalam usia sekolah, orang tua juga harus memastikan kegiatan membantu mencari penghasilan tidak menghilangkan kesempatan anak untuk bersekolah,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga berupaya mencegah anak yang mengalami kendala pendidikan agar tidak masuk dalam kelompok ATS. Sejumlah langkah dilakukan, termasuk memperluas akses sekolah dan menambah ruang kelas pada sekolah yang mengalami kepadatan.
Upaya tersebut menjadi penting karena masih adanya ribuan anak dalam basis data ATS menunjukkan persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sekolah, tetapi juga kondisi yang membuat anak sulit bertahan di sekolah.
Suparmin menyebut pihaknya bersama sejumlah instansi juga melakukan penanganan secara lintas sektor terhadap persoalan ATS.
“Untuk anak-anak yang ditemukan memiliki persoalan pendidikan, kami berupaya melihat penyebabnya terlebih dahulu. Setelah itu baru ditentukan langkah yang bisa dilakukan supaya mereka kembali mendapatkan layanan pendidikan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli







