benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membeberkan dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Kota Tarakan. Tercatat sedikitnya 8 titik kejadian karhutla, yang sebagian besar dipicu aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat di tengah kondisi cuaca kering.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep menjelaskan, berdasarkan data, tren kejadian karhutla didominasi faktor cuaca kering yang dimanfaatkan masyarakat untuk membuka lahan perkebunan.
“Kalau kita melihat trennya yang tinggi itu karena cuaca kering dan aktivitas masyarakat. Rata-rata karena kesengajaan orang membakar lahan dan kebun mereka,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Ia menyebut, kebiasaan pembakaran lahan yang dilakukan secara mandiri tanpa pengamanan yang memadai membuat api mudah merambat ke area sekitar, termasuk wilayah yang dekat dengan permukiman warga. Dalam salah satu kejadian terbaru di wilayah Amal, api bahkan mengakibatkan satu kandang ayam terbakar.
Yonsep menegaskan, meskipun aktivitas pembakaran lahan kerap dilakukan untuk keperluan pembukaan kebun, kurangnya pengendalian dan pengawasan menjadi faktor utama meluasnya kebakaran di sejumlah titik kejadian tersebut.
Sementara itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring masuknya periode cuaca kering berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia menegaskan pihaknya tidak melarang masyarakat melakukan pembakaran lahan, namun harus tetap mengikuti prosedur keselamatan yang ketat.
“Yang pertama itu kami tidak melarang masyarakat melakukan pembakaran kebun, tetapi harus melalui tahapan seperti melokalisasi area yang akan dibakar, dijaga, serta menyediakan tampungan air dan alat pemadam sederhana,” jelasnya.
Dirinya juga meminta agar masyarakat berkoordinasi dengan BPBD dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Tarakan apabila melakukan pembukaan lahan dalam skala tertentu, guna mencegah terjadinya kebakaran yang meluas.
Tak hanya potensi kebakaran, Yonsep juga menyoroti ancaman kekeringan yang mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Kota Tarakan. Ia mengingatkan masyarakat untuk mulai melakukan penghematan penggunaan air. Menurutnya, pada kondisi cuaca kering seperti saat ini, ketersediaan bahan baku air harus menjadi perhatian serius baik pemerintah maupun masyarakat.
“Dalam kondisi seperti ini penyediaan bahan baku air harus betul-betul dijaga, masyarakat harus berhemat dalam memanfaatkan air,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasokan air bersih di Kota Tarakan sangat bergantung pada embung yang menjadi sumber utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Apabila debit air embung menurun, maka akan berdampak langsung pada layanan distribusi air kepada masyarakat.
“PDAM juga sangat tergantung pada embung. Kalau debitnya turun, tentu berpengaruh pada pelayanan,” terangnya.
Yonsep menambahkan, kondisi cuaca di Tarakan yang dipengaruhi wilayah kepulauan membuat perubahan iklim sangat terasa, meski periode kering biasanya tidak berlangsung lama.
“Tarakan itu paling lama dua minggu kering, tapi dampaknya luar biasa karena merupakan wilayah pulau dan sangat dipengaruhi kondisi perairan sekitar,” jelasnya.
BPBD Kota Tarakan mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan, menjaga penggunaan air, serta lebih bertanggung jawab dalam aktivitas pembukaan lahan agar tidak memicu kebakaran yang lebih luas. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina









