benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengungkapkan kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) masih menjadi penyumbang terbesar kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang ditemukan di Kota Tarakan. Di sisi lain, upaya penjangkauan terhadap kelompok berisiko masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari penolakan saat pemeriksaan hingga sulitnya akses ke komunitas.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, mengatakan peningkatan kasus yang ditemukan bukan semata-mata menunjukkan lonjakan penularan, tetapi juga dipengaruhi semakin banyaknya masyarakat yang menjalani pemeriksaan HIV.
“Ada peningkatan. Maksudnya peningkatan yang diperiksa dan pasti ada yang positif,” ujarnya, Senin (3/8/2026).
Berdasarkan data Dinkes Tarakan, sepanjang 2025 sebanyak 7.314 orang menjalani tes HIV atau 103,1 persen dari target 7.093 orang. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 64 kasus positif HIV. Kelompok LSL menjadi penyumbang kasus terbesar, yakni 30 kasus atau 46,9 persen dari total kasus positif yang ditemukan. Dari 384 orang LSL yang menjalani pemeriksaan, hampir separuh temuan positif berasal dari kelompok tersebut.
Selanjutnya disusul pasien Tuberkulosis (TB) sebanyak 17 kasus positif (26,6 persen), Wanita Penjaja Seks (WPS) sebanyak 7 kasus (10,9 persen), ibu hamil sebanyak 4 kasus, serta pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), waria, dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) masing-masing 2 kasus positif.
Sementara hingga Semester I tahun 2026, sebanyak 3.673 orang telah menjalani pemeriksaan atau 51,6 persen dari target tahunan 7.118 orang. Dari jumlah tersebut ditemukan 30 kasus positif HIV. Pola yang sama masih terlihat. Kelompok LSL kembali mendominasi dengan 16 kasus positif (53,3 persen) dari 226 orang yang diperiksa. Disusul pasien TB sebanyak 9 kasus, WPS3 kasus, dan ibu hamil 2 kasus.
Menurut dr. Devi, pihaknya juga melihat adanya keterkaitan peningkatan kasus HIV dengan perilaku seksual berisiko. Ia menegaskan peningkatan kasus HIV berkaitan dengan perilaku LGBT memang ada, namun, pihaknya mengakui proses penjangkauan komunitas tersebut tidak mudah.
“Ada, ada peningkatan kasus. Cuma kami mendeteksi LGBT saat ini lebih sulit. Kalau kami mau masuk kadang-kadang orang pasti menolak kalau diperiksa,” bebernya.
Tidak hanya individu, penolakan juga kerap datang dari tempat kerja yang menjadi lokasi pemeriksaan. Penolakan tersebut didasari oleh rasa takut jika ada yang ketahuan mengidap HIV. Dalam pelaksanaan skrining HIV, Dinkes tidak membebankan satu wilayah kepada satu puskesmas. Lokasi-lokasi yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi dibagi ke beberapa puskesmas agar beban pelayanan dan target pemeriksaan merata.
“Jadi puskesmas tidak melihat wilayahnya. Tempat-tempatnya kami bagi-bagi supaya tidak ada satu puskesmas yang lebih rendah daripada yang lain,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pemetaan kasus HIV tidak dapat dilihat berdasarkan wilayah kerja puskesmas karena lokasi pemeriksaan telah dibagi antar fasilitas kesehatan sesuai cakupan layanan. Selain itu, kelompok usia yang paling banyak ditemukan positif berada pada usia produktif, khususnya sekitar usia 20 tahun ke atas.
Dari sisi jenis kelamin, penderita yang ditemukan masih didominasi laki-laki. Menurut dr. Devi, penularan yang ditemukan saat ini lebih banyak melalui hubungan seksual, sementara penularan akibat penggunaan jarum suntik tidak ditemukan dalam temuan terbaru.
Data Dinkes juga menunjukkan penemuan kasus tertinggi berasal dari sejumlah puskesmas seperti Puskesmas Kampung 1/Karang Rejo, Puskesmas Juata Laut atau Juata Permai, Puskesmas Mamburungan, Puskesmas Gunung Lingkas, serta rumah sakit rujukan seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT). (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







