benuanta.co.id, TARAKAN – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan sejak Rabu (16/9/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan menyebut fenomena tersebut didominasi asap kiriman dari provinsi lain yang masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga kualitas udara kembali masuk kategori tidak sehat dan jarak pandang sempat turun drastis.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan berdasarkan pemantauan BMKG, jumlah hotspot di Kalimantan Utara (Kaltara) justru menurun signifikan dalam dua hari terakhir. Namun, kondisi berbeda masih terjadi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur hingga Sulawesi yang masih memiliki banyak titik panas dengan tingkat kepercayaan (confidence level) tinggi atau berwarna merah sebagai indikasi karhutla.
“Dalam dua hari ini hotspot di Kaltara sudah jauh berkurang. Tapi di Kalsel, Kalteng, Kaltim masih banyak hotspot dengan confidence tinggi yang mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, arah angin menjadi faktor utama yang membawa asap menuju Kaltara. Ia mengatakan hujan yang sempat turun beberapa hari lalu sempat membersihkan udara, tetapi asap kembali muncul karena terbawa angin dari provinsi-provinsi di sebelah selatan.
Selain itu, BMKG juga mencatat peningkatan hotspot di Sulawesi. Ketika angin bertiup dari Sulawesi menuju utara dan mengarah ke perairan Kalimantan Utara, Tarakan kembali berpotensi terdampak asap.
“Dominan asap ini adalah kiriman dari provinsi-provinsi sebelah. Sulawesi juga hotspot-nya meningkat, sehingga ketika anginnya mengarah ke utara, kita juga bisa merasakan asapnya di Tarakan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kualitas udara. Berdasarkan catatan yang dilihat BMKG dari Dinas Lingkungan Hidup, indeks kualitas udara dalam dua hari terakhir berada di atas angka 100 atau masuk kategori tidak sehat.
“Kemarin angkanya melebihi 100, hari ini juga melebihi 100. Itu mengindikasikan kualitas udara tidak sehat,” ungkapnya.
BMKG mencatat jarak pandang yang sebelumnya sekitar 8 kilometer sempat turun hingga hanya 2 kilometer. Namun saat ini, kondisi mulai membaik dengan jarak pandang berada di atas 5 kilometer, sementara pengamatan di bandara menunjukkan visibilitas sekitar 6 kilometer.
Kendati demikian, BMKG memastikan kondisi tersebut masih berada dalam batas aman untuk operasional penerbangan. Khilmi menegaskan keputusan terkait penerbangan sepenuhnya berada di tangan otoritas bandara dan AirNav apabila jarak pandang turun di bawah batas minimal sekitar 1.800 meter.
“Kalau nanti jarak pandangnya di bawah standar, pihak bandara ataupun AirNav yang akan menyesuaikan operasional. BMKG hanya menyampaikan informasi cuaca dan jarak pandangnya,” jelasnya.
Perhatian lebih besar justru diarahkan kepada aktivitas di laut. Ia menjelaskan, sebaran asap saat ini lebih terkonsentrasi di wilayah timur Pulau Tarakan hingga Laut Sulawesi sehingga jarak pandang di perairan diperkirakan lebih pendek dibandingkan yang tercatat di bandara.
“Sebaran asapnya lebih mengarah ke laut di timur Pulau Tarakan sampai Laut Sulawesi. Masyarakat yang beraktivitas di perairan perlu berhati-hati karena jarak pandang di laut bisa lebih pendek,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







