benuanta.co.id, TARAKAN – Kebakaran melanda kawasan Kampung Nelayan di Jalan Gajah Mada, RT 16, Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Jumat (18/9/2026) siang. Sedikitnya delapan bangunan hangus terbakar, sementara puluhan personel gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api agar tidak menjalar ke permukiman padat di sekitarnya.
Laporan kebakaran atau kode 65 diterima Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan PMK) Kota Tarakan pada pukul 14.35 Wita. Lima menit kemudian, unit pertama sudah tiba di lokasi dan langsung menggelar selang untuk melakukan penyemprotan.
Kepala Satpol PP dan PMK Tarakan, Sofyan, mengatakan kebakaran terjadi di kawasan yang sebagian besar bangunannya berbahan kayu sehingga api cepat membesar.
“Informasi masuk pukul 14.35, pukul 14.40 kita sudah sampai di lokasi dan langsung melakukan penyemprotan,” ujarnya.
Data sementara mencatat delapan bangunan terbakar. Rinciannya terdiri dari lima rumah petak milik Ahmad yang dikontrakkan kepada sejumlah penghuni, serta tiga rumah tinggal yang berada di bagian belakang. Sementara warga yang tercatat terdampak yakni Nurdin, Hamka, Sabri, dan Ahmad.
Menurutnya, bangunan yang terbakar didominasi konstruksi kayu, sedangkan salah satu bangunan di bagian tengah merupakan bangunan semi permanen. Material tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat api cepat menjalar.
“Kalau petakan yang terbakar ini kayu semua. Rata-rata bangunannya kayu,” bebernya.
Petugas kemudian menerapkan strategi pemutusan jalur rambatan api atau sistem gunting dengan memblok bangunan yang belum terbakar. Upaya tersebut berhasil menyelamatkan satu rumah di sisi kiri lokasi sehingga api tidak merembet ke kawasan belakang yang lebih padat.
Proses pengendalian api berlangsung hampir satu jam, sementara tahap pendinginan tetap dilanjutkan hingga dipastikan tidak ada lagi kepulan asap yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Pendinginan dilakukan bersama kelompok peduli kebakaran yang tetap berjaga di lokasi.
Di balik keberhasilan melokalisir api, petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Kendaraan yang diparkir di kiri dan kanan jalan sempat menghambat masuknya armada pemadam, sementara kondisi air laut yang sedang surut membuat pompa portable tidak dapat menyedot air dari sumber terdekat.
“Kondisi air kebetulan air mati. Kita sudah upayakan pakai portable, tapi tidak bisa nyedot karena belum pasang,” terangnya.
Sementara itu, Kabid PMK Tarakan, Eko Supriyatnoko, menambahkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun berdasarkan keterangan awal dari masyarakat, terdapat dugaan unsur kelalaian.
“Dugaan sementara ada kelalaian,” singkatnya.
Eko menjelaskan, berdasarkan informasi warga, api pertama kali muncul dari rumah milik Sabri. Warga melihat api muncul dari bagian bawah bangunan sebelum membesar. Saat pemeriksaan di lokasi, petugas juga menemukan solar di bagian depan rumah tersebut yang diketahui digunakan untuk kebutuhan nelayan, meski pihaknya belum memastikan kaitannya dengan penyebab kebakaran.
“Api dari bawah langsung muncul. Kita dapati di depan ada solar, ternyata beliau juga termasuk penyedia solar untuk nelayan,” ungkapnya.
Menurutnya, asap hitam yang muncul pada awal kejadian turut menjadi perhatian petugas saat melakukan penilaian kondisi di lapangan. Meski demikian, keterkaitan keberadaan solar dengan sumber api masih menjadi bagian dari penyelidikan.
BACA JUGA:
Pemukiman Kampung Nelayan di Selumit Pantai Kebakaran, Bangunan dari Bahan Kayu Ludes
Dalam operasi pemadaman, PMK Tarakan mengerahkan total 46 personel yang terdiri dari 40 anggota pemadam kebakaran dan enam anggota Relawan Kebakaran (Redkar). Armada yang diterjunkan meliputi satu unit pemadam dan tiga kendaraan suplai dari Mako Kampung Satu, satu unit pemadam Pos Gajah Mada, satu unit pemadam dan satu kendaraan suplai dari Pos Tarakan Barat, serta satu kendaraan pengangkut personel Satpol PP.
Selain itu, operasi turut mendapat dukungan TNI, Brimob, Perintis Polres Tarakan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah Indonesia (PMI), PDAM, Pertamina, dan Poklakhar.
Dirinya menambahkan, keberadaan pembatas alami berupa sungai, ruang kosong, dan parit di sekitar lokasi turut membantu proses pelokalisiran sehingga kebakaran tidak meluas ke permukiman yang lebih rapat.
“Yang patut kita syukuri, lokasi yang terbakar ini sudah ada batasan-batasan di sekitarnya. Kalau api sampai keseberang, di sana jauh lebih padat lagi,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







