Dinkes Tarakan Catat 115 Suspek Campak, Didominasi Anak-anak

benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mencatat sebanyak 115 suspek campak ditemukan hingga pekan lalu.

Kasus tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Tarakan dengan dominasi penderita pada kelompok usia anak-anak, khususnya usia 1 hingga 4 tahun.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tarakan, Rinny Faulina mengatakan, peningkatan kasus campak terjadi di tengah masih rendahnya cakupan imunisasi pada sebagian anak.

“Dari data yang kami dapatkan, yang tidak lengkap imunisasinya lebih banyak dibanding yang lengkap. Dari 155 data yang masuk, sekitar 56 persen tidak mendapatkan imunisasi,” ujarnya.

Rinny menjelaskan, imunisasi campak seharusnya diberikan tiga kali, yakni saat usia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika anak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Namun data yang ada masih bercampur antara anak yang memang belum cukup usia menerima vaksin dan anak yang sama sekali belum pernah diimunisasi.

Menurutnya, anak yang sudah mendapatkan imunisasi tetap berpotensi tertular campak, tetapi gejala yang dialami cenderung lebih ringan dibanding anak yang belum pernah diimunisasi.

“Kalau sudah diimunisasi, gejala yang muncul biasanya lebih ringan,” ungkapnya.

Ia menerangkan, campak menular melalui droplet atau percikan air liur saat berbicara maupun kontak dekat dengan penderita. Gejala umumnya berupa ruam merah atau ‘kerumut’, mata merah, dan demam. Dalam beberapa kasus, campak juga dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia atau sesak napas. Meski begitu, seluruh kasus yang ditemukan di Tarakan sejauh ini dilaporkan sembuh.

“Yang paling berat biasanya sampai pneumonia. Tapi alhamdulillah di Tarakan semuanya masih sembuh,” jelasnya.

Berdasarkan laporan puskesmas, wilayah dengan kasus tertinggi saat ini berada di Kelurahan Karang Anyar. Sementara hampir seluruh kelurahan di Tarakan telah melaporkan adanya kasus campak, kecuali Kelurahan Karang Balik.

“Kasus campak ini memang meluas. Yang tidak ada kasusnya hanya Karang Balik,” terangnya.

Sebagai langkah penanganan, setiap laporan kasus campak akan ditindaklanjuti dengan investigasi epidemiologi untuk melihat potensi penularan di sekitar rumah pasien. Dinkes juga memberikan vitamin A kepada seluruh penderita untuk mencegah gangguan pada mata dan membantu regenerasi kulit.

Dirinya menyebut rendahnya cakupan imunisasi masih dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari akses layanan kesehatan, orang tua bekerja, hingga adanya kelompok masyarakat yang menolak imunisasi karena alasan tertentu.

“Ada juga yang merasa imunisasi itu haram atau tidak boleh. Padahal anak yang tidak diimunisasi berisiko mengalami gejala lebih berat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *