benuanta.co.id, TARAKAN — Krisis tenaga pendidik di Kota Tarakan tidak hanya soal jumlah guru yang masih kurang lebih dari 100 orang, tetapi juga minimnya peminat pada mata pelajaran tertentu.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan mengungkapkan sejumlah formasi guru yang dibuka pemerintah sebelumnya bahkan tidak seluruhnya terisi.
Kepala Dinas Pendidikan Tarakan, Tamrin Toha, mengatakan kondisi paling terasa terjadi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) serta seni dan budaya. Kekurangan guru di bidang tersebut membuat distribusi tenaga pengajar di sekolah negeri semakin tidak merata.
Guna mengatasi kondisi itu, sebagian guru terpaksa mengajar di lebih dari satu sekolah. Beban mengajar mereka pun meningkat jauh di atas standar ketentuan.
“Kalau dihitung sesuai standar 24 jam mengajar per minggu, kekurangan kita cukup besar. Sekarang banyak guru mengajar sampai 35 sampai 36 jam per minggu,” ujarnya.
Hingga 2026, kebutuhan guru di sekolah negeri Tarakan masih minus lebih dari 100 orang. Saat ini jumlah guru tercatat sekitar 1.600 orang dengan komposisi sekitar 800 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 800 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Namun jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan ideal. Setiap tahun, jumlah guru terus berkurang akibat pensiun, mutasi hingga meninggal dunia. Dalam dua tahun terakhir, jumlah guru pensiun diperkirakan mencapai 70 hingga 80 orang.
Disdik Tarakan sebelumnya telah mengusulkan penambahan 81 formasi guru. Akan tetapi, pemerintah daerah hanya menyetujui sekitar 30 formasi sehingga belum mampu menutup kekurangan tenaga pendidik.
Selain mengandalkan guru ASN dan PPPK, sekolah negeri di Tarakan juga masih dibantu sekitar 52 tenaga honorer. Namun, sebagian dari mereka belum memenuhi persyaratan untuk mengikuti seleksi PPPK.
Tamrin menegaskan, perekrutan guru selanjutnya masih menunggu kebijakan pemerintah pusat melalui skema Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun PPPK. Di sisi lain, kemampuan keuangan daerah juga menjadi pertimbangan dalam penambahan formasi.
“Sistemnya sekarang zero growth, jadi jumlah yang direkrut menyesuaikan dengan yang pensiun. Itu pun tetap melihat kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.
Hingga saat ini, Disdik Tarakan berharap ada kebijakan afirmasi bagi tenaga honorer agar kekurangan guru, terutama pada mata pelajaran tertentu, tidak terus berulang dan mengganggu proses pembelajaran di sekolah. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







