benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat, mengawali tahun 2025 Kota Tarakan mengalami deflasi yang cukup dalam pada Januari 2025.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, mengungkapkan bahwa deflasi kali ini mencapai 1,52 persen, menjadikannya yang terdalam sejak tahun 2020.
“Deflasi sebesar 1,52 persen ini merupakan yang paling dalam dalam lima tahun terakhir,” ujarnya.
Menurut Umar Riyadi, faktor utama yang menyebabkan terjadinya deflasi adalah kebijakan diskon tarif listrik yang diberlakukan secara nasional.
“Kebijakan ini memberikan andil sebesar minus 1,88 persen terhadap angka inflasi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa efek dari kebijakan tersebut membuat inflasi Januari 2025 mengalami deflasi yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain diskon tarif listrik, kelompok pengeluaran lainnya juga menyumbang deflasi meski dalam jumlah kecil. BPS mencatat bahwa kelompok pakaian dan alas kaki serta transportasi udara masing-masing menyumbang penurunan sebesar 0,01 persen.
“Transportasi udara masih menunjukkan tren penurunan harga, yang turut memperkuat deflasi di bulan ini,” kata Umar Riyadi.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi. Umar Riyadi mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat memberikan andil sebesar 0,30 persen.
“Kelompok ini perlu diwaspadai karena memberikan andil inflasi month to month yang lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya,” ujarnya.
Pada Januari 2023, kelompok ini hanya berkontribusi sebesar 0,25 persen, sementara di Januari 2024 sebesar 0,16 persen.
Meski saat ini terjadi deflasi, Umar Riyadi mengingatkan bahwa kebijakan diskon tarif listrik hanya berlaku selama dua bulan. Setelah kebijakan ini berakhir, ada kemungkinan inflasi akan meningkat kembali.
“Begitu tarif listrik kembali normal, kita harus bersiap menghadapi potensi kenaikan inflasi yang cukup besar,” tegasnya.
Untuk perbandingan di tingkat provinsi, deflasi di Kalimantan Utara (Kaltara) tercatat sebesar 1,35 persen. Artinya, deflasi di Tarakan lebih dalam dibandingkan dengan wilayah lainnya di provinsi ini.
“Secara nasional juga terjadi deflasi, dan ini dipengaruhi oleh kebijakan diskon tarif listrik yang diterapkan secara serentak,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pemantauan harga oleh BPS terhadap 383 komoditas yang dikelompokkan ke dalam 11 kelompok pengeluaran. Menurutnya, pengawasan yang ketat sangat penting untuk memahami dinamika inflasi dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Kami akan terus memantau pergerakan harga setiap bulannya agar tren inflasi dapat dianalisis dengan baik,” tutupnya. (*)
Reporter: Nurul Auliyah
Editor: Yogi Wibawa







