benuanta.co.id, NUNUKAN – Di tengah keterbatasan fasilitas, minimnya akses teknologi, dan beratnya medan yang harus ditempuh, semangat pendidikan di perbatasan Indonesia–Malaysia tetap menyala.
Nyala itu dijaga oleh sosok-sosok guru yang memilih bertahan, mengabdi, dan terus mengajar meski dihadapkan pada tantangan yang tak ringan. Salah satunya adalah Donald Christian, S.Pd, guru Fisika di SMAN 1 Krayan Selatan.
Bagi Donald, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk membangun masa depan generasi muda di tanah kelahirannya.
Lahir dan besar di dataran tinggi Krayan, ia memahami betul bagaimana pendidikan menjadi jalan penting bagi anak-anak perbatasan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Sejak 2015, Donald mengabdikan dirinya di SMAN 1 Krayan Selatan. Meski berasal dari Kecamatan Krayan Timur, setiap pekan ia harus menempuh perjalanan menuju tempat mengajar dengan kondisi akses jalan yang terbatas.
Rutinitas itu menjadi bagian dari pengorbanan yang ia jalani demi memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung.
“Setiap Minggu sore saya berangkat ke Krayan Selatan, lalu Jumat sore baru kembali ke rumah di Krayan Timur. Kondisi jalan tidak memungkinkan untuk pulang-pergi dalam satu hari,” ujarnya.
Perjalanan panjang itu belum seberapa dibanding tantangan yang dihadapi saat musim hujan tiba. Hujan deras kerap membuat sungai meluap, bahkan menghanyutkan jembatan yang menjadi akses utama menuju sekolah.
Dalam kondisi demikian, Donald bersama para guru dan siswa tetap berupaya datang ke sekolah, meski harus menerjang banjir demi menjaga kegiatan belajar tetap berjalan.
Baginya, perjuangan itu adalah konsekuensi dari pengabdian. Namun di balik semua tantangan fisik, ada persoalan lain yang tak kalah berat: keterbatasan sarana pendidikan.
Di wilayah Krayan, listrik dari PLN hanya menyala pada malam hari. Pada siang hari, aktivitas belajar berlangsung tanpa dukungan listrik memadai. Jaringan internet pun belum tersedia, membuat akses terhadap sumber belajar digital nyaris mustahil.
Akibatnya, proses belajar masih sangat bergantung pada buku paket sebagai sumber utama pembelajaran.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika kebijakan pendidikan dan kurikulum terus berubah. Keterbatasan fasilitas membuat adaptasi terhadap sistem pembelajaran baru tidak semudah sekolah-sekolah di wilayah perkotaan.
Meski demikian, semangat mendidik tak pernah surut. Donald tetap berdiri di depan kelas, mengajarkan rumus, logika, dan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, sembari menanamkan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Pada momentum Hari Pendidikan Nasional, kisah Donald menjadi cerminan bahwa wajah pendidikan Indonesia tidak hanya berada di ruang kelas modern dengan fasilitas lengkap, tetapi juga hidup di sekolah-sekolah perbatasan, di tempat para guru berjuang dalam sunyi demi satu tujuan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Donald berharap perhatian pemerintah terhadap pendidikan di wilayah perbatasan semakin nyata, baik dalam peningkatan infrastruktur sekolah, pemerataan fasilitas belajar, hingga kesejahteraan guru yang mengabdikan diri di daerah terpencil.
“Harapan kami sederhana, pendidikan di Krayan bisa terus berkembang, fasilitas lebih baik, dan kesejahteraan guru juga diperhatikan secara merata. Karena tugas kami sama, yakni mendidik anak bangsa,” tutupnya.
Di ujung utara Kalimantan, di tengah sunyi pegunungan Krayan, pengabdian itu terus hidup menjadi bukti bahwa pendidikan selalu punya penjaga, bahkan di titik paling jauh negeri ini. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Ramli







