benuanta.co.id, BULUNGAN – Awalnya hanya mencoba. Melihat teman merokok, muncul rasa penasaran. Dimulai dari satu batang pertama kemudian menjadi kebiasaan, hingga akhirnya sulit untuk berhenti. Cerita seperti itu dialami Dian, seorang perokok aktif. Ia mengaku sudah mengenal rokok sejak duduk di kelas 1 SD. Saat itu, lingkungan pertemanan membuatnya mulai tertarik untuk mencoba.
“Awal mula saya mengenal rokok saat saya duduk di bangku SD kelas 1. Saat itu saya berteman dengan dua sampai tiga tahun di atas saya. Saat itu hanya saya yang tidak menggunakan rokok, namun lama-kelamaan saya mulai penasaran karena ingin mencoba,” kata Dian, Kamis (13/8/2036).
Dari sekadar mencoba, kebiasaan itu kemudian berlanjut hingga kecanduan. Nikotin dalam rokok membuat keinginan untuk kembali merokok semakin sulit dikendalikan.
Dalam sehari, Dian mengaku bisa menghabiskan sekitar dua bungkus rokok. Menurutnya, salah satu tanda seseorang mulai kecanduan adalah ketika rokok tetap dicari meskipun kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan.
“Biasanya orang yang selalu mengusahakan ingin menghisap rokok walaupun secara finansial tidak memadai, biasanya dia telah menjadi pecandu rokok,” ujarnya.
Namun, di balik kebiasaan seperti ini terdapat risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap ringan.
Dokter Spesialis Paru, dr. Fadlun, Sp.P mengatakan, rokok membawa ribuan zat berbahaya ke dalam tubuh. Sebagian di antaranya bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.
“Dalam rokok itu terkandung tujuh ribu jenis zat-zat karsinogen dan tujuh puluh di antaranya sangat berbahaya,” jelasnya.
Paru-paru menjadi salah satu organ yang paling terdampak. Kebiasaan merokok dapat berkaitan dengan berbagai penyakit seperti kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga memperburuk kondisi penderita asma.
“Masalah paru yang ditimbulkan sangat banyak, mau itu kanker paru, PPOK, orang yang sakit asma, semua itu berdampak,” katanya.
Tetapi bahaya rokok ternyata tidak berhenti di paru-paru. Menurut dr. Fadlun, dampaknya juga dapat menyerang organ tubuh lainnya, termasuk jantung dan sistem reproduksi.
Ia mengingatkan, tidak munculnya keluhan bukan berarti tubuh terbebas dari dampak rokok. Penyakit akibat kebiasaan merokok bisa saja belum menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Merokok saja tidak sakit belum tentu. Kita tidak tahu kondisi parunya, mungkin saja belum bergejala pada saat itu,” ujarnya.
Risiko Perokok Pasif Bisa Gangguan Pernafasan
Asap rokok juga membawa persoalan bagi orang yang tidak merokok. Mereka yang berada di sekitar perokok dapat ikut menghirup asap dan menjadi perokok pasif.
Nurul, salah seorang perokok pasif, mengaku tidak nyaman ketika berada di dekat orang yang sedang merokok. Baginya, asap rokok membuat udara menjadi tidak nyaman untuk dihirup.
“Perasaanku saat ada di dekat orang yang perokok tentunya sangat risih, karena sulit untuk bernapas dan udara di sekitar itu jadi tercemar asapnya,” ungkap Nurul.
Paparan ini menjadi lebih mengkhawatirkan ketika terjadi di lingkungan keluarga. Anak-anak juga dapat ikut terkena dampaknya ketika tinggal bersama perokok.
dr. Fadlun mengatakan, perokok yang merokok di dalam rumah dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi anggota keluarga. Bahkan, ia mengingatkan sisa zat rokok yang menempel pada pakaian juga perlu diperhatikan.
“Kalau merokok di dalam rumah pasti sudah tahu, asap perokok akan menyebabkan gangguan sistem pernapasan untuk keluarga yang ada dalam rumah,” katanya.
Karena itu, perokok yang baru pulang dari luar rumah disarankan membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi dengan keluarga.
“Masuk rumah langsung cuci bajunya, langsung mandi, cuci baju, baru kontak dengan keluarga atau orang-orang yang ada di dalam rumah,” ujarnya.
Meski begitu, menurutnya langkah itu hanya bentuk pencegahan untuk mengurangi paparan. Pilihan terbaik tetap berhenti merokok.
“Intinya sebenarnya jangan merokok, baik di luar rumah atau di dalam rumah. Berhenti merokok. Kalau memang sayang sama keluarga, intinya kan seperti itu,” tegasnya.
Rokok Elektrik: Zat-zat Kimianya juga Ada!
Ketika rokok konvensional mulai ditinggalkan sebagian orang, rokok elektrik atau vape muncul sebagai pilihan. Bentuknya berbeda dan cara penggunaannya juga berbeda. Namun, bukan berarti risiko kesehatannya hilang.
dr. Fadlun mengatakan, anggapan rokok elektrik aman karena tidak menggunakan tembakau seperti rokok biasa perlu diluruskan.
“Kalau yang elektrik tidak berbahaya karena tidak ada daun-daunnya, itu tidak begitu,” katanya.
Rokok elektrik tetap dapat mengandung nikotin dan berbagai zat kimia. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menganggap vape sebagai rokok yang bebas risiko.
“Yang pertama kan nikotin, nikotin juga ada di rokok elektrik, tar juga ada di rokok elektrik. Zat-zat kimianya juga ada,” jelasnya.
Artinya, mengganti rokok biasa dengan rokok elektrik bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari bahaya rokok. Keduanya tetap memiliki risiko kepada kesehatan.
Bagi perokok yang sudah kecanduan, berhenti bukan perkara mudah. Ada proses yang harus dilalui dan kemauan yang kuat dari diri sendiri.
dr. Fadlun mengatakan, berhenti merokok bisa dilakukan secara bertahap dengan mengurangi jumlah rokok dan mengatur waktu merokok.
“Untuk terapi berhenti merokok ini ada yang farmakologi, ada yang nonfarmakologi. Yang nonfarmakologi tadi itu ada keinginan, kemauan untuk berhenti merokok,” jelasnya.
Jumlah rokok kemudian dapat dikurangi sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak lagi merokok.
Namun, tantangan tidak hanya berasal dari rasa ingin merokok. Lingkungan pergaulan juga dapat membuat seseorang kembali kepada kebiasaan lama.
“Kalau cuma satu minggu tidak merokok belum tentu. Nanti kumpul lagi sama temannya yang merokok, balik lagi. Lingkungan juga kan berpengaruh,” katanya.
Karena itu, edukasi bahaya rokok tidak cukup hanya mengatakan bahwa rokok menyebabkan penyakit. Masyarakat perlu memahami bagaimana rokok memengaruhi tubuh, bagaimana asapnya berdampak pada keluarga, serta bahwa rokok elektrik juga bukan pilihan yang bebas bahaya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli








