Jaga Gusi, Selamatkan Gigi: Penyakit Periodontal Kerap Terlambat Disadari

benuanta.co.id, TARAKAN – Perhatian masyarakat terhadap kesehatan gigi umumnya masih berfokus pada gigi itu sendiri. Padahal, jaringan pendukung seperti gusi memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga fungsi dan ketahanan gigi. Gangguan pada gusi yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang berisiko menyebabkan kerusakan jaringan penyangga hingga kehilangan gigi.

Dokter Spesialis Periodonsia RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, drg. Herdianti Maulidita Haryo, Sp.Perio, menjelaskan bahwa periodonsia merupakan cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari kesehatan jaringan penyangga gigi, meliputi gusi, tulang alveolar, serta ligamen periodontal.

“Secara sederhana, periodonsia mempelajari penyakit dan perawatan jaringan pendukung gigi,” ujarnya.

Ia menerangkan, penyakit periodontal umumnya diawali oleh gingivitis atau peradangan ringan pada gusi. Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan gusi tampak kemerahan, membengkak, dan mudah berdarah saat menyikat gigi. Apabila diabaikan, peradangan dapat berkembang menjadi periodontitis yang menyerang jaringan lebih dalam dan merusak penyangga gigi.

“Banyak orang menganggap gusi berdarah itu hal biasa, padahal itu merupakan tanda awal adanya peradangan,” katanya.

Menurutnya, infeksi periodontal yang sudah memasuki tahap berat tidak hanya berdampak pada rongga mulut, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan organ lain. Hal itu terjadi ketika bakteri dari jaringan gusi yang terinfeksi masuk ke dalam aliran darah dan memicu gangguan kesehatan lainnya.

Selain itu, pasien yang memiliki penyakit sistemik seperti diabetes melitus, mengalami perubahan hormonal saat kehamilan, atau memiliki daya tahan tubuh rendah juga lebih rentan mengalami gangguan periodontal karena kemampuan tubuh melawan bakteri cenderung menurun.

“Pasien dengan penyakit sistemik lebih berisiko karena respons tubuh terhadap bakteri di rongga mulut tidak sekuat orang yang sehat,” jelasnya.

Herdianti menuturkan, penyebab utama penyakit periodontal adalah penumpukan plak, yakni lapisan lengket yang terbentuk dari sisa makanan dan bakteri di permukaan gigi. Jika tidak dibersihkan secara rutin, plak akan mengeras menjadi karang gigi yang semakin sulit dihilangkan tanpa bantuan tenaga medis.

“Kalau plak dibiarkan, lama-kelamaan akan berubah menjadi karang gigi,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa faktor lain seperti kebiasaan merokok, stres, pola makan yang kurang baik, hingga ketidakseimbangan hormon dapat memperburuk kondisi jaringan gusi. Sayangnya, banyak penderita baru menyadari adanya masalah ketika gigi mulai terasa goyang atau fungsi mengunyah mulai terganggu.

“Rasa nyeri sering kali tidak muncul di awal. Saat gigi mulai goyang, biasanya penyakitnya sudah berkembang,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, Herdianti mengimbau masyarakat menjaga kebersihan mulut setiap hari dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan teknik yang benar, membersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi, serta berkumur menggunakan obat kumur antiseptik bila diperlukan. Ia juga menyarankan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali, termasuk melakukan pembersihan karang gigi (scaling) sesuai indikasi.

“Sikat gigi dengan teknik yang benar selama sekitar dua menit dan jangan menunda scaling bila memang diperlukan,” pesannya.

Menurut Herdianti, menjaga kesehatan gusi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan gigi. Sebab, gusi merupakan fondasi utama yang menopang gigi agar tetap kuat dan berfungsi dengan baik.

“Gusi adalah fondasi gigi. Kalau gusinya rusak, sekuat apa pun giginya tidak akan bertahan lama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *