benuanta.co.id, BULUNGAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Utara (Kaltara) terus mendorong siswa untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki melalui berbagai kegiatan pendidikan, salah satunya Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
FLS3N tingkat Provinsi Kaltara jenjang SMA dan SMK yang dilaksanakan pada 10-12 Agustus 2026 menjadi salah satu wadah bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan di bidang seni dan sastra. Kegiatan ini diikuti siswa SMA dan SMK se-Kaltara yang merupakan juara 1 dan 2 dari hasil seleksi tingkat kabupaten/kota.
Kepala Bidang SMK Disdikbud Kaltara, Arinda mengatakan, pelaksanaan FLS3N tahun ini dilakukan secara daring. Sebelum penilaian, seluruh peserta sudah mengirimkan karya melalui tautan yang disediakan panitia.
“Peserta FLS3N tingkat provinsi ini adalah pemenang dari hasil seleksi FLS2N tingkat kabupaten kota, jadi pesertanya juara 1 dan 2,” kata Arinda Kamis (13/8/2026).
Sebanyak 16 cabang lomba dilaksanakan dalam FLS3N tahun ini. Cabang lomba terdiri dari kategori pertunjukan dan penciptaan. Beberapa cabang yang dilombakan di antaranya menyanyi solo putra dan putri, monolog, film pendek, jurnalistik, musik tradisional, desain poster dan berbagai cabang seni serta sastra lainnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya mengirimkan karya. Sejumlah dokumen pendukung seperti pernyataan keaslian karya dan dokumen proses penciptaan juga menjadi bagian yang dikumpulkan peserta.
“Karena pelaksanaannya daring, semua karya peserta sudah dikirim sebelumnya. Selain karya, ada juga dokumen terkait keaslian karya dan proses penciptaannya,” jelas Arinda.
Untuk menjaga proses penilaian, Disdikbud Kaltara melibatkan 15 juri yang berasal dari kalangan profesional di bidang seni dan sastra. Para juri berasal dari sejumlah daerah, seperti Tanjung Selor, Tarakan, Nunukan dan Malinau.
Penilaian dilakukan di tiga lokasi, yakni SMA Negeri 1 Tanjung Selor, SMK Negeri 1 Tanjung Selor dan Gedung Disdikbud Kaltara.
Meski pelaksanaan dilakukan secara daring, penilaian pada beberapa cabang tidak hanya berdasarkan video maupun karya yang telah dikirim. Juri juga melakukan wawancara dengan peserta melalui Zoom.
“Untuk beberapa cabang lomba, juri tidak hanya melihat rekaman atau hasil karya, tetapi juga ada Zoom dengan pesertanya dan ada wawancara dengan peserta,” ujarnya.
Dari hasil pelaksanaan FLS3N tingkat Provinsi Kaltara, Kota Tarakan berhasil menjadi juara umum.
Para pemenang juga mendapatkan hadiah. Dukungan itu menjadi salah satu bentuk perhatian untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi tahapan selanjutnya di tingkat nasional.
“Kita berharap dengan hadiah ini bisa mendukung mereka untuk menyiapkan yang lebih baik lagi. Selain itu, melalui cabang dinas dan sekolah juga bisa membantu mereka mempersiapkan diri untuk tingkat nasional,” kata Arinda.
Menurut Arinda, peserta yang lolos ke tingkat nasional nantinya kembali mengikuti proses secara daring dengan mengirimkan karya. Karya yang telah digunakan pada tingkat provinsi masih dapat dikembangkan untuk mengikuti tingkat nasional.
Namun, ia berharap siswa dapat memperbaiki karya berdasarkan masukan dari juri sehingga hasil yang dikirimkan ke tingkat nasional menjadi lebih baik.
“Boleh pakai karya yang kemarin diikutkan di tingkat provinsi, tapi lebih bagus lagi kalau karyanya sudah dapat masukan dari juri sehingga bisa dipersiapkan lebih bagus lagi,” ujarnya.
Disdikbud Kaltara juga mendorong sekolah agar memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Tidak hanya bidang seni dan budaya, tetapi juga olahraga, akademik maupun penelitian.
Arinda menilai setiap siswa memiliki potensi dan bakat yang berbeda sehingga perlu diberikan ruang untuk berkembang selama berada di lingkungan sekolah.
“Sekolah-sekolah harus memberikan kesempatan untuk semua anak yang memiliki minat dan bakat. Kalau ada lomba-lomba, mereka bisa diikutkan sehingga semakin terasah potensi dan bakatnya,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan seni dan budaya yang dilaksanakan di sekolah dapat terus dilakukan. Selain untuk mengejar prestasi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap seni dan budaya Indonesia.
“Melalui kegiatan di sekolah bisa mendorong anak-anak untuk lebih cinta budaya Indonesia,” pungkas Arinda. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli








