benuanta.co.id, NUNUKAN – Penguatan kemampuan guru dalam mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi menjadi perhatian dalam kegiatan Workshop Blended Learning: Pengembangan Konten Digital Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Tahun 2026 yang berlangsung di Kabupaten Nunukan, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan Unit Pelaksana Teknis Daerah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (UPTD TIKP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tersebut diikuti 40 guru SMA dari Kabupaten Nunukan. Pelatihan ini secara khusus diarahkan untuk membekali guru agar mampu merancang dan menghasilkan konten pembelajaran digital yang inovatif, interaktif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kepala UPTD TIKP Provinsi Kaltara, Khairunnisa Maharani, S.Pd., mengungkapkan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran. Guru, menurutnya, perlu memiliki keterampilan dalam memanfaatkan teknologi, bukan hanya sebagai pengguna perangkat, tetapi juga sebagai penghasil materi pembelajaran digital.
“Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat menuntut adanya transformasi dalam dunia pendidikan,” ungkapnya, Rabu (16/9/2026).
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya UPTD TIKP dalam meningkatkan kompetensi pendidik di Kalimantan Utara, khususnya dalam merancang media pembelajaran yang lebih menarik dan melibatkan peserta didik secara aktif.
“UPTD TIKP berupaya meningkatkan kompetensi guru SMA, SMK, dan SLB agar mampu menghasilkan media pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan berpusat pada peserta didik,” jelasnya.
Khairunnisa menambahkan, kegiatan di Nunukan memiliki beberapa sasaran utama. Selain meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan memproduksi konten digital, pelatihan ini juga ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan perangkat serta platform teknologi informasi yang tersedia di sekolah.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas guru dalam merancang dan memproduksi konten pembelajaran digital serta mengoptimalkan pemanfaatan perangkat dan platform teknologi informasi,” tambahnya.
Menurutnya, pengembangan konten digital juga diharapkan dapat membangun ekosistem pendidikan yang saling terhubung melalui pertukaran materi dan praktik baik antarguru. Konten yang dihasilkan nantinya dapat menjadi bagian dari bank konten digital pendidikan di tingkat Provinsi Kalimantan Utara.
“Kami juga ingin membangun ekosistem berbagi praktik baik dan mendorong terbentuknya bank konten digital pendidikan di tingkat provinsi,” lanjutnya.
Pelaksanaan pelatihan menggunakan metode blended learning, yakni menggabungkan pembelajaran secara daring dan luring. Penerapan metode tersebut diharapkan memberikan pengalaman pelatihan yang lebih fleksibel sekaligus memperkenalkan pola pembelajaran yang dapat diterapkan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltara Wilayah Nunukan, Mahfudz, S.Ag., yang mewakili Kepala Disdikbud Kaltara, mengatakan penyediaan perangkat teknologi di sekolah harus diikuti dengan kemampuan guru dalam menghasilkan konten pembelajaran yang berkualitas.
“Komputer, Chromebook, jaringan internet, dan papan interaktif merupakan sarana penting. Namun, semua itu harus didukung dengan konten digital yang berkualitas, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” katanya.
Ia menyebutkan, Kabupaten Nunukan memiliki posisi strategis sebagai wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, kondisi geografis tidak boleh menjadi penghambat bagi peserta didik untuk memperoleh akses pembelajaran yang setara dan berkualitas.
“Letak geografis Nunukan tidak boleh menjadi penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan merata,” sebutnya.
Mahfudz menjelaskan, konten pembelajaran digital dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari video pembelajaran, modul elektronik, infografis, hingga media interaktif. Penggunaan materi tersebut dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang dan waktu.
“Konten digital memungkinkan proses pembelajaran melampaui batas ruang dan waktu,” tuturnya.
Ia berharap peserta pelatihan mampu berkembang dari sekadar pengguna teknologi menjadi kreator konten pembelajaran. Guru juga didorong untuk memanfaatkan Chromebook dan perangkat digital lainnya dalam menyusun pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan serta karakteristik peserta didik.
“Kami berharap guru dapat menjadi pencipta konten digital, mengoptimalkan perangkat yang tersedia, dan menerapkannya dalam pembelajaran yang berdiferensiasi,” harapnya.
Selain itu, Mahfudz mendorong terbentuknya budaya berbagi materi dan praktik baik antarguru. Menurutnya, konten pembelajaran yang dihasilkan melalui pelatihan tidak hanya bermanfaat bagi sekolah masing-masing, tetapi juga dapat digunakan dan dikembangkan oleh satuan pendidikan lain di Kalimantan Utara.
“Budaya berbagi praktik baik perlu dibangun agar karya guru di Nunukan dapat memberikan manfaat lebih luas dan digunakan oleh sekolah-sekolah lain di Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber dari Duta Teknologi, Laeli Widianti, S.Si., yang memberikan materi mengenai pengembangan dan pemanfaatan konten digital dalam pembelajaran. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat keterampilan guru sekaligus mendorong lahirnya bahan ajar digital yang lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. (adv)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







